Aliansi Tangkal Penyakit Infeksi


TEMPO Interaktif, Jakarta:Inisiatif riset klinis untuk penyakit infeksi baru seperti flu burung serta yang timbul kembali seperti demam berdarah dan tuberkulosis diresmikan Kamis lalu di Makassar. Inisiatif itu diusung bersama Novartis Institute for Tropical Disease, Singapura, dengan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dan Universitas Hasanuddin.

Seusai peresmian, Herawati Sudoyo, Manajer Eksekutif di Lembaga Eijkman, menuturkan aliansi yang juga dibina oleh lembaganya itu bertujuan mencari pengobatan dan pencegahan jenis-jenis penyakit di atas. "Saat ini fokus penelitian kami adalah demam berdarah dengue dan tuberkulosis," katanya.

Demam berdarah dengue, menurut Herawati, adalah contoh sempurna untuk penyakit infeksi yang muncul lagi belakangan ini. Penyakit itu tidak hanya mewabah di Indonesia, tapi juga di Eropa, yang sudah sempat dinyatakan bebas. "Sampai saat ini pun belum ada vaksinnya yang cocok," katanya.

Mengenai tuberkulosis, Herawati menyoroti prevalensi penderitanya yang sangat besar. Sepertiga populasi dunia terinfeksi dan lebih dari dua juta orang meninggal setiap tahun gara-gara infeksi bakteri jenis batang itu.

Aliansi yang bernama resmi Novartis-Eijkman Institute-Hasanuddin University Clinical Research Initiative (NEHCRI) itu nantinya juga akan membidik pengobatan untuk malaria dan flu burung. Khusus untuk wabah flu burung, Herawati mengungkapkan, Lembaga Eijkman sudah menyiapkan fasilitas laboratorium biosafety level 3 untuk meneliti virusnya. "Masih testing untuk proses sertifikasi," katanya sambil menambahkan laboratorium senilai Rp 25 miliar itu akan benar-benar siap pada Maret mendatang.

NEHCRI juga akan mengandalkan dua macam laboratorium studi genomik milik Lembaga Eijkman di Jakarta dan laboratorium studi epidemiologi klinik di Rumah Sakit Dr Wahidin Sudirohusodo, Makassar. Novartis kebagian peran transfer keahlian dalam aspek penemuan obat dan pengembangannya, termasuk teknologi dan pendanaan.

WURAGIL

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X