Berita Terkait
GE Berminat Bangun Reaktor Nuklir
TEMPO Interaktif, Bangkok:
General Electric (GE) berminat membangun reaktor nuklir pembangkit listrik di Indonesia. Chief Executive Officer General Electric International Ferdinando Beccalli-Falco mengatakan reaktor nuklir yang cocok adalah Fin 5. Reaktor ini dapat menghasilkan sekitar 1.600 megawatt listrik.
"Harganya sekitar US$ 1,4 miliar (sekitar Rp 12 triliun)," kata dia menjawab Tempo dalam acara GE Day di Plaza Athenee, Bangkok, Thailand.
Ferdinando mengaku GE siap bersaing dengan dua perusahaan raksasa penyedia teknologi nuklir lainnya, yaitu gabungan Mitsubishi Heavy Industries (Jepang) dengan Areva (Prancis) dan gabungan Toshiba (Jepang) dengan Westinghouse Electric (Inggris). GE, menurut dia, bekerja sama dengan Hitachi (Jepang).
Seperti ramai diberitakan, pemerintah telah mendiskusikan rencana pembangunan pembangkit listrik bertenaga nuklir. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro dalam beberapa kesempatan mengatakan reaktor nuklir itu akan mulai dibangun pada 2010-2011. Reaktor nuklir ini diharapkan mampu menyuplai kebutuhan energi listrik mulai 2015. Menurut cetak biru yang ada, pembangkit nuklir itu mampu menyuplai sekitar 4.000 megawatt dengan tahap pertama menyuplai sekitar 1.000 megawatt. Tempat yang sering disebut-sebut sebagai lokasi adalah Gunung Muria, Jepara, Jawa Tengah.
Menurut Ferdinando, yang akrab disapa Nani, jika pemerintah tetap pada rencananya membangun sesuai dengan jadwal yang ada, waktu yang tersedia terbilang mendesak (aggressive date). "Sekarang soal waktu akan menjadi sulit, kecuali sudah dimulai dengan segera persiapannya," kata dia.
Dibutuhkan tim yang berjumlah besar untuk mengelola pembangkit listrik tenaga nuklir.
Direktur Pengembangan Pasar General Electric di Indonesia Hasto Kristiyono mengatakan perusahaan asal Amerika itu memang tertarik mengerjakan proyek nuklir. Namun, di samping itu, perusahaan mengembangkan teknologi energi alternatif yang terbarukan, seperti biofuel dari minyak sawit.
Presiden Direktur General Electric Asia Tenggara Stuart Dean mengatakan perusahaan telah lama menjalin hubungan dengan Badan Tenaga Atom Nasional. Kerja sama itu, kata dia, termasuk mengenai informasi nuklir dan pelatihan. l
BUDIRIZA