Berita Terkait
Australia Buang Manusia Perahu ke Pulau Terpencil
TEMPO Interaktif, Sydney: Perdana Menteri Australia John Howard kemarin mengatakan negaranya tidak akan menerima rombongan manusia perahu yang dicegat Rabu lalu. Rombongan 85 pencari suaka (kebanyakan dari Sri Lanka dan ada dua warga negara Indonesia) itu ada kemungkinan akan dikirim ke kamp penahanan Nauru, pulau terpencil di kawasan Pasifik.
Howard menegaskan Australia akan menerapkan kebijakan perlindungan perbatasan yang sangat kuat dan efektif. "Jelas, mengirim mereka ke Nauru menjadi satu opsi, tapi kami akan mempelajari semua opsi," kata Howard.
Meski masih akan mengumpulkan sejumlah informasi tambahan menyangkut para pengungsi itu, Howard memastikan mereka tidak akan diizinkan memasuki daratan Australia. "Itu mutlak," ujarnya.
Kamp penahanan Nauru menjadi pusat perhatian internasional pada 2001 saat rombongan manusia perahu pencari suaka asal Afganistan dikirim ke sana. Berdasarkan undang-undang "Solusi Pasifik" yang diberlakukan Australia mulai 2001 untuk menangkal penyelundup pengungsi, orang yang tiba secara ilegal dengan perahu bisa dikirim ke penahanan imigrasi di Nauru dan Papua Nugini, sementara klaim mereka diselisik.
September lalu, Australia mengirim tujuh pencari suaka dari Myanmar ke Nauru. Selama beberapa bulan sebelumnya, pusat penahanan itu sempat kosong setelah penghuni terakhir, warga negara Irak, pergi ke Australia untuk menjalani perawatan medis.
Berbagai kelompok pembela hak-hak pengungsi mengatakan pengiriman kelompok terakhir ini akan menghalangi mereka mengajukan permohonan perlindungan di Australia. "Pada dasarnya, mereka akan dikirim ke pembuangan tanpa kepastian di Nauru dan sama sekali tak punya akses ke proses legal Australia," kata David Manne dari Pusat Legal Pengungsi dan Imigrasi.
Aktivis pembela pengungsi lainnya, David Mann, menuntut pemberian akses ke penasihat hukum untuk para manusia perahu. "Opsi pertama yang riil adalah memastikan orang-orang ini dibawa ke dalam situasi keselamatan dan keamanan di Australia, tempat mereka bisa menjelaskan kesulitan-kesulitan mereka," ujar aktivis pembela pengungsi, David Mann.
Perahu kayu yang membawa ke-85 orang itu dicegat pada posisi sekitar 50 mil laut dari Pulau Christmas. Menteri Imigrasi Kevin Andrews mengatakan perahu itu terlihat oleh pesawat militer Australia lima hari lalu dan HMAS Success dikirim untuk mencegatnya.
Personel kapal angkatan laut itu melakukan perbaikan pada mesin perahu tersebut, tapi kemudian memastikan mesinnya tidak bisa diperbaiki. Saat didekati lagi, perahu itu mulai kemasukan air karena mesin dan lambungnya disabotase, kata Andrews. Andrews menambahkan, para pengungsi itu belum mengajukan klaim resmi. "Tapi indikasi awal menunjukkan mereka akan mencari suaka di Australia."
Ini adalah rombongan besar pertama pencari suaka sejak 43 penduduk Papua mendarat di ujung utara Australia setelah berlayar dengan perahu kecil pada Januari 2006. Kejadian ini memunculkan cekcok diplomatik Australia dengan Indonesia karena Canberra menganugerahi mereka visa perlindungan.
l AFP | HERALD SUN | YANTO MUSTHOFA