Soal AIDS, Pemerintah Terlalu Kaku


TEMPO Interaktif, Jakarta:Sekretaris Jenderal Masyarakat Peduli Aids Jawa Timur Esthi Susanti Hudiono menilai strategi penanggulanan AIDS yang selama ini dilakukukan pemerintah tidak efektif.

"Pemerintah mengadopsi cara barat dalam menangani AIDS di Indonesia tanpa diadaptasikan dulu," katanya dalam Laporan Singkat Pertemuan Nasional HIV/AIDS III di Front-Row Cafe, Jakarta, Rabu (28/02).

Penanggulangan AIDS dengan mengadopsi cara-cara barat tersebut, menurutnya, sangat tidak sesuai dengan pola budaya masyarakat Indonesia. "Disana (barat) masyarakatnya sangat individualis sedangkan masyarakat disini sangat mudah dipengaruhi oleh lingkungan dan komunitasnya," katanya.

Selain itu, ia juga menilai pendekatan yang dilakukan pemerintah terhadap masyarakat dalam mensosialiasikan AIDS sangat kaku. Ia mencontohkan, informasi-informasi pendidikan AIDS yang selama ini diberikan kepada remaja tidak dikemas dalam bentuk yang sesuai dengan dunia remaja. "Tidak berpekspektif remaja, padahal tiap generasi polanya, kan, berubah," katanya.

Ia menambahkan, selain informasi yang diberikan harus disesuaikan dengan masyarakat, pemerintah juga harus membawa pendidikan AIDS ke sekolah. "Tidak cukup hanya dengan memasukkannya ke dalam kurikulum, karena kurikulum hanya kognitif. Tapi pendidikan tentang kecakapan hidup," ujarnya.

Menurutnya pemerintah perlu menjadikan AIDS sebagai isu kesehatan nasional agar laju kasus AIDS dapat ditekan dan dapat lebih disosialisasikan. "Sebab tahun 2025 nanti, 1 hingga 1,5 juta orang di Indonesia akan terinfeksi HIV," ujarnya.

Berdasarkan data estimasi polupasi rawan tertular dan estimasi polulasi Orang Dengan HIV dan AIDS (ODHA) yang dilakukan Depkes pada 2006 lalu, diperkirakan populasi ODHA sebanyak 169.000 hingga 216.000 orang dengan rata-rata sebanyak 193.000 orang. Total estimasi populasi pengguna Napza suntik diperkirakan mencapai 190.460 hingga 247.800 orang dengan rata-rata 219.200 orang dan 90.120 diantaranya diperkirakan ODHA.

Dwi Riyanto Agustia

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan

Berita Terkait

Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X