Berita Terkait



Bursa Jakarta Rontok

TEMPO Interaktif, Jakarta:
Indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Jakarta kemarin terjun bebas 61,20 poin (3,48 persen) dari 1.760,019 menjadi 1.698,82. Penurunan ini merupakan rekor terbesar sejak 10 Januari 2007.

Tak mau ketinggalan, pasar uang rupiah anjlok 80 poin ke 9.245 per dolar Amerika setelah sesi pagi sempat terpuruk pada 9.255 per dolar. Nilai ini merupakan level terendah sejak 30 Juni 2006.

Kepala Riset PT Samuel Sekuritas Cristine Salim mengatakan terpuruknya bursa Jakarta merupakan dampak langsung kejatuhan bursa dunia. "Investor di bursa Jakarta sangat terpengaruh dengan kejatuhan itu," ujarnya, Senin.

Kepanikan jual terjadi di bursa kawasan setelah indeks Dow Jones di Wall Street selama sepekan ambruk 4,2 persen (533,38 poin) dari 12.647,48 menjadi 12.114,10. Ini merupakan penurunan poin tertinggi mingguan sejak 19 Juli 2002.

Rontoknya Dow Jones sebagai barometer investor membuat bursa saham dunia mengalami kejatuhan yang mendalam. Pada transaksi kemarin, Hang Seng (Hong Kong) anjlok 4,0 persen menjadi 18.664,88. Diikuti Nikkei-225 sebesar 3,34 persen ke 16.642,25. Straits Times Singapura melorot 3,32 persen ke level 2.976,62. Bursa Taiwan ambruk 3,74 persen menjadi 7.344,56.

Menurut Christine, kejatuhan bursa dunia akibat kepanikan pasar bakal melambatkan perekonomian global. Faktor pendukung utama adalah reaksi eksesif investor atas guncangan di pasar modal Cina. "Langkah Cina yang akan memperlambat pertumbuhan ekonomi menjadi 8,0 persen membuat pasar cemas," katanya.

Di samping itu, Christine melanjutkan, pernyataan mantan Gubernur Federal Reserve Alan Greenspan tentang ancaman resesi terhadap perekonomian Amerika Serikat pada akhir 2007 ikut memberikan sentimen negatif. "Pernyataan ini mendorong aksi jual di pasar saham," ujarnya.

Dengan kondisi ini, Christine menilai sentimen negatif global yang kuat akan menghilangkan sentimen positif yang bisa muncul dari kebijakan penurunan BI Rate. "Sebaiknya Bank Indonesia menunda penurunan suku bunga agar efek carry trade tidak kian meluas," katanya.

Carry trade merupakan perilaku investor yang mencari pinjaman dari negara dengan mata uang suku bunga rendah, seperti Jepang, kemudian diinvestasikan ke mata uang yang memberi imbal hasil lebih tinggi, seperti rupiah. "Investor juga melakukan reverse carry trade dari pasar saham ke pasar uang karena dinilai berisiko," ujarnya.

Kepala Treasury PT Bank NISP Tbk. Suryanto Chang juga mengatakan saat ini pasar sedang mengalami demam reverse carry trade dengan mengembalikan lagi dana dari saham dan obligasi ke yen. Sebab, mata uang Jepang diyakini akan terus menguat seiring dengan rencana bank sentral Jepang menaikkan suku bunga.

l MUCHTAR WIJAYA (PDAT)