Berita Terkait
Korban Tuding Pro Integrasi Yang Melakukan Kekerasan
TEMPO Interaktif, Jakarta:Nonato Soares, korban kedua yang dimintai keterangan Komisi Kebenaran dan Persahabatan (KKP) Indonesia-Timor Leste, dalam kesaksiannya mengatakan bahwa kekerasan yang terjadi di Timor-Timur pada tahun 1999 dilakukan oleh milisi pro integrasi. "Menurut saya kekerasan yang terjadi saat itu dilakukan oleh milisi pro-integrasi," ucap Nonato saat public shearing di Crown Plaza Jakarta, Kamis (29/3).
Dalam klarifikasinya, Nonato menyampaikan bahwa pada saat kekerasan terjadi dia menjumpai beberapa anggota milisi membawa senjata M-16. Nonato yang mantan anggota TNI dan kemudian dikaryakan menjadi Kepala Desa Bidau Licedere mengaku tidak tahu menahu dan tidak pernah mendengar informasi darimana para anggota milisi itu mendapatkan senjata. Namun, dia yakin betul bahwa senjata itu memang berjenis M-16.
Dalam kekerasan yang terjadi di Timor-Timur saat itu, Nonato sendiri mengalami penganiayaan cukup parah yang menyebabkan punggung dan perut bagian kirinya terluka. Saat kejadian, Nonato sedang berusaha menyelamatkan keluarganya dalam keadaan yang sangat carut-marut, dia dibantu oleh salah seorang anggota TNI Letnan Dua Suratman.
Dia diberikan tumpangan mobil untuk keluar dari daerahnya. "Beberapa menit setelah masuk mobil, dengan keadaan pintu mobil masih terbuka, tiba-tiba saya ditusuk oleh milisi pro integrasi dengan pedang," ucapnya.
Setelah penusukan itu, kata Nonato, tidak ada yang peduli. Namun, akhirnya dia dilarikan kerumah sakit oleh Letnan Suratman dan seorang milisi pro integrasi lain yang ada disitu.
Sesampai dirumah sakit, Nonato mendapatkan pelayanan yang memadai. Menurutnya, dokter yang menanganinya saat itu sangat netral. Walaupun dia dibawa ke Rumah Sakit Husada, rumah sakit pemerintah Indonesia. "Hanya saja ketika mereka mulai tahu kalau saya kepala desa yang membelot menjadi prokemerdekaan, pelayanan itu sedikit menurun," ucapnya. Namun, Nonato menekankan, bahwa penghargaan kepada kemanusiaan tetap dijunjung disana.
Oleh karena itu, pada klarifikasinya hari ini, Nonato berharap agar rekonsiliasi menuju persahabatan kedua negara diutamakan diatas segala-galanya. Sebelum mengakhiri klarifikasinya, Agus Widjojo, Komisioner dari KKP Indonesia, menanyakan pada Nonato, apakah dalam pertemuan-pertemuan yang dia ikuti sebagai kepala desa, bupati atau walikota yang saat itu masih dipegang oleh orang Indonesia pernah memberitahukan akan adanya rencana kekerasan ditempat itu apabila prokemerdekaan menang.
Nonato mengatakan, bahwa dia tidak pernah diberitahukan hal itu, "dalam semua pertemuan yang saya ikuti, rencana seperti itu tidak pernah ada," ucap Nonato yang dalam kesaksiannya kali ini tidak mau mengatasnamakan seluruh korban di Dili, tapi atas nama dirinya sendiri saja.
TITIS SETIANINGTYAS





