Tingginya Kecepatan Saat Mendarat Dinilai Janggal


TEMPO Interaktif, Jakarta:Ketua Asosiasi Federasi Pilot Indonesia Manotar Napitupulu menilai janggal soal temuan tingginya kecepatan pesawat Garuda GA 200 yang terbakar di Yogyakarta pada awal Maret lalu saat melakukan pendaratan.

“Ini tidak masuk akal. Karena dengan kecepatan 230 knot, pesawat tidak akan mungkin berhenti di ujung landasan,” katanya kepada Tempo di Jakarta Senin, (9/4).

Menurut Manotar ada dua kemungkinan yang menyebabkan terjadinya peristiwa itu. Pertama, indikator di cockpit Garuda GA 200 rusak sehingga pilot tidak bisa menerima informasi yang benar soal kecepatan pesawat. Kedua, pilot sedang tidak berkonsentrasi sehingga mengabaikan kecepatan pesawat saat mendarat. “Bisanya pilot dan kopilot sedang blank,” katanya.

Seperti diberitakan Koran Tempo hari ini, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengakui, saat proses mendarat, kecepatan pesawat Garuda GA-200, yang terbakar di Yogyakarta pada awal Maret lalu, terlalu tinggi.

Sesuai dengan data kotak hitam, kata Mardjono Siswo Suwarno, Ketua Tim Investigasi KNKT untuk kecelakaan Garuda, saat mendarat kecepatan pesawat mencapai 230 knot atau setara dengan 425,5 kilometer per jam (1 knot setara dengan 1,85 kilometer per jam). Kecepatan itu hampir dua kali lipat di atas batas normal 140 knot atau 259 kilometer per jam. "Kebanteran (terlalu cepat)," katanya di Jakarta kemarin. Dia menambahkan, mendarat dengan kecepatan yang terlalu tinggi bisa mengakibatkan struktur pesawat rusak.

Garuda GA-200 jenis Boeing 737-400 keluar dari landasan saat mendarat di Bandar Udara Adisutjipto, Yogyakarta, 7 Maret lalu. Pesawat kemudian terbakar dan menewaskan 21 orang dari 133 penumpangnya.

Pernyataan itu menanggapi pemberitaan koran Australia Sydney Morning Herald (SMH) edisi Sabtu lalu, yang menyebutkan Garuda mendarat dengan kecepatan dua kali angka normal. Saat menyentuh landasan, kecepatan mencapai 410 kilometer per jam, hampir dua kali kecepatan yang direkomendasikan, 250 kilometer per jam. Padahal panjang landasan terbatas.

Namun, Mardjono menegaskan KNKT belum bisa menyimpulkan fakta itulah penyebab celakanya Garuda. Tim masih perlu menyelidiki lebih lanjut data ini. Penyelidikan tidak hanya pada aspek teknis, tapi juga suasana ketika pesawat sedang terbang serta kondisi pilot dan kopilotnya. "Nanti juga perlu ada tes urine dan psikologis," ia memaparkan.

Setri Yasra

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO