Seperti Bayi Di Kandungan


Berita Terkait

TEMPO Interaktif, Jakarta:
Arkeolog menyatakan bahwa posisi kerangka manusia yang terlipat di situs-situs bukit kerang berhubungan dengan kepercayaan tentang kehidupan setelah kematian. "Mereka melipat jenazah sama seperti mengembalikan manusia ke dalam kandungan, hidup lagi," kata Lukas Partanda Koestoro, Kepala Balai Arkeologi Medan kepada Tempo pada selasa lalu.

Penguburan jenazah berlipat seperti itu ditemukan oleh arkeolog dari Medan di situs Bukit Kerang Pangkalan di Aceh Tamiang, pada awal April lalu. Selain kerangka manusia, mereka juga menemukan peralatan batu, gerabah, dan tulang.

Harry Truman Simanjuntak, peneliti di Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, mengatakan penguburan seperti itu adalah tren pada masa Holosen di Asia Tenggara. Pola itu tersebar mulai dari Semenanjung Malaysia sampai ke Pulau Jawa Indonesia.

Di situs Gua Cha, Kelantan, Malaysia, yang diperkirakan berusia 10 ribu tahun BP, ditemukan kerangka seorang pemuda yang terlipat berbantalkan lempengan. Demikian pula di Niah, Malaysia, Gua Kepah, Pulau Penang, dan situs Gua Duyong di Pulau Palawan, Filipina Selatan.

Di Indonesia, selain di Aceh Tamiang, model semacam itu ditemukan pula di situs Gua Lawa, Sampung, Jawa Timur. Kerangka-kerangka itu ditemukan dengan posisi tangan terlipat ke bawah dagu atau menutup mata.

Di Gua Batu Buli, Desa Randu, Muarauya, Tabalong, Kalimantan Selatan, tujuh tahun lalu ditemukan kerangka manusia yang diperkirakan dari masa 7.000-10.000 tahun BP. Kerangka itu dalam posisi kepala menengadah dan kaki terlipat serta telapak tangan menyentuh pergelangan kaki atau menyilang di pinggul.

Kerangka-kerangka itu umumnya ditemukan bersama bubuk oker (bijih besi/hematit yang bercampur dengan tanah liat dan pasir berwarna kekuningan, jingga/kemerahan dan coklat). Posisi kerangka berlipat bak bayi dalam kandungan.

DEDDY SINAGA | HAMBALI BATUBARA

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan