Berharap Penegasan Stastus Lexie, Wartawan Terkecoh
TEMPO Interaktif, Sumedang:
Besarnya sorotasn publik terhadap kasus kekerasan di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), membuat puluhan wartawan dari media cetak dan elektronik rela menunggu hasil pemeriksaan Profesor Lexie M Giroth sampai larut.
Tapi setelah menunggu berjam-jam, mereka mendapati ruangan tempat polisi memeriksa Dekan Manajemen Ilmu Pemerintahan IPDN itu kosong melompong. Tak ada penjelasan sama sekali dari polisi mengenai status sang profesor.
Awalnya, wartawan menunggu di sekitar ruang pemeriksaan Markas Polres Sumedang. Sebagian menunggu sejak siang hari. Bahkan dua stasiun televisi swasta memarkir masing-masing satu mobil Satellite News Gathering (SNG) di halaman depan kantor polres sejak sehari sebelumnya.
Polisi melakukan penyidikan terhadap Lexie sejak dia dibawa ke mapolres Kamis (13/4) malam sekitar pukul 22.30 WIB. Lexie diperiksa di posko penanganan kasus IPDN. Posko ini berupa ruangan berukuran 4x4 meter yang berada di bagian belakang mapolres Sumedang.
Ruangan ini memiliki dua pintu masing-masing di sebelah Utara dan Selatan. Namun pintu sebelah Utara terhalang oleh sebuah kursi sofa tempat Lexie duduk selama diperiksa. Sedangkan untuk keluar masuk, penyidik melalui pintu Selatan. Di depan pintu inilah sebagian besar wartawan menunggu hasil pemeriksaan.
Lexie diduga menjadi aktor yang menyuruh Iyeng Sopandi, petugas di Yayasan Pelayanan Pemakaman dan Kremasi Bumi Baru Bandung untuk menyuntikkan formalin ke tubuh Cliff Muntu. Dugaan ini dikemukakan Kapolda Jawa Barat, Irjen Soenarko Danu Ardanto, Kamis malam berdasarkan pengakuan Iyeng kepada penyidik. Iyeng sendiri diperiksa di ruang terpisah.
Sekitar pukul 21.45 WIB, Kepala Polres Sumedang Ajun Komisaris Besar Syamsul Bahri mendatangi posko. Setelah beberapa menit berada di dalam ruangan, Syamsul keluar dan sempat berbicara dengan wartawan.
Saat ditanya hasil pemeriksaan dan status Lexie, Syamsul mengatakan, pihaknya belum bisa melakukan penahanan. “Karena masih diperlukan bukti-bukti lain,” ujarnya. Syamsul menambahkan, pemeriksaan terhadap Lexie bisa jadi diteruskan pada hari Sabtu.
Setelah Syamsul pergi, wartawan masih menunggu di depan pintu selatan posko. Namun sampai pukul 23.00 WIB, tidak ada tanda-tanda pemeriksaan akan berakhir. Adi Marsiela, wartawan Suara Pembaruan yang tidak tahu adanya pintu di sebelah utara, bertanya pada Dedi, wartawan Tribun Jabar. “Selain pintu ini, apa ada pintu lain?”
Dedi mengatakan ada, sambil menunjukkan pintu di sebelah Utara. Melihat hal ini, Adi penasaran. “Jangan-jangan kita terkecoh,” ujarnya. Mendengar perkataan Adi, wartawan lain ikut penasaran dan mencoba membuka pintu posko. Mereka mendapati ruangan itu sudah kosong, dan Lexie serta penyidik sudah tidak ada di tempat.
Melihat hal ini, beberapa wartawan lalu berlari ke arah pintu utara, sebagian lagi mengejar ke halaman depan mapolres. Namun batang hidung Lexie sudah tidak terlihat. Dedi mengaku, sekitar pukul 22.00 WIB, dia sempat melihat dua mobil Terrano meninggalkan halaman mapolres. “Jangan-jangan mobil itu yang membawa Lexie,” ujarnya.
Karena kecewa, sebagian wartawan memutuskan pulang. Sebagian lagi masih berbincang-bincang di halaman polres. “Kita ditipu nih,” ujar seorang wartawan foto sambil berjalan meninggalkan kantor polisi. Rana Akbari Fitriawan













