indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

BII Bagikan Deviden Rp 253 miliar


Berita Terkait

TEMPO Interaktif, Jakarta:PT Bank Internasional Indonesia (BII) Tbk. memutuskan pembagian deviden Rp 253 miliar, atau 40 persen dari laba bersih perseroan tahun lalu Rp 634 miliar. Keputusan itu disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT BII di Jakarta.

Direktur BII Sukatmo Patmosukarso mengatakan dengan keputusan ini, setiap lembar saham BII bakal mendapat deviden Rp 13. “Tahun lalu deviden yang kami bagikan hanya 35 persen dari laba bersih 2005,” kata Sukatmo.

BII juga menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang menyetujui pergantian susunan dewan komisaris dan direksi perseroan.

Rapat menunjuk Ernest Wong Yuen Weng sebagai Presiden Komisaris BII, menggantikan Peter Seah Lim Huat yang sebelumnya mengundurkan diri.

Selain itu, rapat luar biasa juga menyetujui pengunduran diri Yong Ko Oh dan Prajoto sebagai anggota dewan komisaris BII. Posisinya akan digantikan Woo Shick Lee, bekas bankir internasional Kookmin Bank asal Korea.

Persetujuan pengunduran diri juga diberikan pada jajaran direksi, yakni Direktur Konsumer BII Rudi N. Hamdani. Posisinya akan digantikan Rita Mas'Oen, bekas Chief Operation Officer BII.

“Semua posisi yang disetujui rapat ini akan efektif diisi setelah mendapat persetujuan Bank Indonesia,” ujar Sukatmo.

Menurut Sukatmo, pergantian susunan dewan komisaris dan direksi ini tidak akan berdampak banyak terhadap kinerja perseroan. “Kami telah mengembangkan sistem organisasi, sehingga siapapun yang menjalankan tak akan ada masalah,” cetusnya.

Tentang rencana bank sentral meluncurkan aturan batasan tenaga kerja asing pada perbankan, Sukatmo mengaku tak khawatir. “Kami kira pengaturan itu masih akan memperkenankan mayoritas jajaran komisaris dan direksi diisi asing,” tuturnya.

AGOENG WIJAYA

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan