Kepemilikan Asing Di Obligasi Negara Terus Meningkat


TEMPO Interaktif, Jakarta:Kepemilikan investor asing dalam obligasi negara dalam mata uang rupiah meningkat dari bulan sebelumnya. Tercatat Februari lalu, asing hanya menguasai 13,7 persen dari total obligasi negara dalam negeri dan kemudian Maret meningkat menjadi 14,5 persen.

"Angka ini berarti terus meningkat karena pada Januari saja asing hanya tercatat 12,94 persen kepemilikannya dari total obligasi negara dalam rupiah," ujar Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Departemen Keuangan Rahmat Waluyanto di Jakarta Selasa (17/4).

Menurut dia, kepemilikan asing yang meningkat ini bisa menimbulkan risiko tertentu. Dalam kondisi ekonomi yang tidak stabil, asing bisa saja cepat menarik investasinya keluar dari obligasi negara atau adanya pelarian modal dari Indonesia. "Namun, selain risiko ada sisi manfaatnya, yaitu untuk merangsang investor lain untuk menanam modal di obligasi negara," ujarnya.

Dengan meningkatnya investor asing, secara otomatis, Rahmat melanjutkan, kepemilikan sektor non-bank terhadap obligasi negara semakin meningkat dari angka 34,3 persen menjadi 36,48 persen. Asing tercatat merupakan bagian di sektor non-bank kepemilikan obligasi negara."Beberapa juga meningkat yaitu dana reksa, sekuritas, dana pensiun serta lain-lain, tetapi yang paling tajam naiknya di sektor ini adalah asing," kata dia.

Sedangkan sektor perbankan, mengalami penurunan secara bertahap dari Januari 2007 sebesar 63,89 persen turun menjadi 61 persen pada Maret turn menjadi 61 persen. "Memang penurunan perbankan ini cukup positif, supaya investor semakin terdiversifikasi dan obligasi negaranya semakin kuat," kata dia.

Pada kesempatan yang sama, Rahmat juga mengumumkan hasil lelang obligasi negara seri benchmark FR0028 dan seri FR044. Dari jumlah penawaran yang masuk senilai Rp 19,9 triliun, pemerintah hanya menyerap Rp 3 triliun untuk seri FR0028 dan Rp 4 triliun untuk seri FR044.

Untuk FR028, yield tertimbang rata-rata sebesar 9,823 persen dengan tingkat kupon 10 persen dengan masa jatuh tempo pada 15 Juli 2017 dan untuk FR044 dengan yield tertimbang rata-rata sebesar 10,382 persen dengan tingkat kupon sebesar 10 persen dan masa jatuh tempo 15 september 2024. "Kami tidak serap semua penawaran, untuk memberi ruang ke instrumen obligasi negara yang lain," katanya.

Anton Aprianto

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan

Berita Terkait

Copyright © 2011
TEMPO
.CO