Berita Terkait
Menggali Peradaban yang Terkubur
TEMPO Interaktif, Mataram:
Hujan baru saja mengguyur hutan hijau royo-royo itu. Di kejauhan, kabut yang kerap menyelubungi Gunung Tambora sudah tersaput. Puncaknya tampak jelas sejauh mata memandang.
Di kaki gunung yang terletak di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, itu, sepuluh orang tampak asyik beraktivitas di dalam dua buah lubang persegi yang tak terlalu dalam. Kape dan alat pacul di tangannya berdentingan di permukaan tanah yang berwarna gelap.
Mereka adalah arkeolog dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional dan Balai Arkeologi Denpasar. Di dasar lubang yang masing-masing seluas 25 meter persegi itu, mereka sedang menggali sisa-sisa permukiman masyarakat yang dikubur letusan Gunung Tambora, 192 tahun silam.
Tambora meletus dengan kehebatan yang tiada tara pada 10 April 1815. Sejarah mencatat inilah letusan gunung terdahsyat yang pernah ada. Berada pada skala tujuh menurut indeks letusan gunung berapi, empat kali lebih dahsyat daripada letusan Gunung Krakatau pada 1883. Total material yang terlempar dari perut gunung itu mencapai 150 kilometer kubik.
Material dan debu panas dari gunung itu mengubur tiga kerajaan--Tambora, Pekat, dan Sanggar--serta 11 ribu penduduknya. Bencana itu juga menyebabkan 85 ribu orang hilang, disusul 38 ribu lainnya tewas akibat wabah penyakit dan kelaparan. Separuh manusia di Pulau Sumbawa musnah saat itu.
Cerita kedahsyatan itu lantas terkubur di bawah tanah. Tapi beberapa penggalian sejak 1972 mulai menguliti cerita tersebut satu per satu.
Penggalian terakhir adalah yang dikerjakan para arkeolog tersebut. Mereka menggali di sebidang tanah di Desa Oibura, Kecamatan Tambora, Bima, Nusa Tenggara Barat. Penggalian pada 22 Maret sampai 16 April 2007 itu dilakukan tak jauh di selatan lokasi penggalian pada 2004.
Pada kedalaman 1,5-2 meter, arkeolog menemukan kerangka kuda, sisa kayu rangka rumah, anyaman tikar dari rotan, ijuk sebagai bahan atap, peralatan tembikar, keramik, besi, tali dari serat bambu, serta setumpuk bulir padi. Semuanya pada satu bagian rumah.
"Semuanya sudah menjadi arang," kata Bambang Budi Utomo, ketua tim penggalian kepada Tempo, Selasa pekan lalu.
Arkeolog yang akrab dipanggil Tomi itu belum berani memastikan bagian rumah apa yang telah ditemukan. "Kami tak tahu itu dapur atau bagian belakang dari sebuah rumah," katanya.
Tapi, menurut Tomi, penggalian tersebut kian menguatkan kesimpulan bahwa Tambora satu-satunya situs permukiman arkeologis yang lengkap dan bisa digali setelah lenyap akibat bencana. "Di Pulau Jawa, banyak situs yang terkait dengan bencana, tapi umumnya situs candi. Sedangkan permukimannya belum ditemukan," kata dia.
Semua itu terbantu oleh proses penimbunan oleh material gunung yang bak batu membara. Prosesnya, Tomi melanjutkan, persis seperti pembuatan arang. Pada proses pembakaran tersebut, yang dipakai adalah bara dan bukan nyala api. Sehingga bentuk semula benda yang dibakar tetap terpelihara meski terkarbonasi.
Ini berbeda dengan rekonstruksi yang dilakukan oleh Profesor Haraldur Sigurdsson, ahli geologi dari Universitas Rhode Island, Amerika Serikat, yang menggali di sana pada 2004. Saat itu, Sigurdsson menggambarkan permukiman penduduk itu terbakar habis lalu terkubur.
Penggalian yang dilakukan Sigurdsson mendapat publikasi yang luas di dunia. Pada penggalian yang menggunakan alat georadar itu, Sigurdsson dan timnya menemukan kerangka manusia dan artefak-artefak, seperti cawan dan piring dari keramik, wadah-wadah dari tembikar, serta alat-alat perunggu dan besi.
Mereka lantas menyimpulkan Tambora adalah sebuah peradaban mirip kebudayaan Mon-Khmer di Vietnam dan Kamboja yang sudah musnah. Bahkan mereka membandingkannya dengan Kota Pompeii, kota modern Romawi yang terkubur akibat letusan Gunung Vesuvius pada tahun 79.
Penggalian itu lantas dikritik para arkeolog karena tak dilakukan dengan kaidah penggalian yang benar. Bekas penggalian tak ditutup rapi sehingga habis diterjang banjir. Artefak-artefaknya pun diboyong ke Amerika tanpa izin yang jelas.
Sigurdsson berkilah artefak itu terpaksa dibawa ke Amerika untuk diteliti lebih lanjut. "Peralatan dari logam diteliti secara kimia untuk memastikan asalnya dari India, Cina, atau Jepang," katanya kepada Tempo saat itu.
Setelah Sigurdsson kembali ke negaranya, dua tahun kemudian giliran tim dari Museum Geologi Bandung dan arkeolog dari Balai Arkeologi Denpasar menggali di sana. Igan Supriatman Sutawijaya, peneliti ahli dari Direktorat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi Departemen Energi Sumber Daya Mineral, mengatakan pada saat itu pihaknya meneliti materi-materi vulkanik yang menimbun Kerajaan Tambora.
Disimpulkan, ketebalan awan panas yang menyelimuti kawasan tersebut mencapai 5-8 meter. Adapun suhunya mencapai 400-700 derajat Celsius. "Diteliti dari tiang rumah dan orang yang terarangkan," katanya kepada Tempo di Bandung.
Kini, penelitian dilakukan sepenuhnya oleh arkeolog yang bekerja sama dengan pemerintahan daerah setempat. Tomi mengatakan pihaknya akan kembali ke Tambora saban tahun sampai 2011. Rangkaian penelitian itu adalah persiapan menyambut dua abad letusan Gunung Tambora, yang jatuh pada April 2015.
Menurut Tomi, masih banyak hal yang bisa digali dari situs tersebut. Dia berharap hasil penelitian itu nantinya akan memberikan manfaat bagi masyarakat. "Atau membangkitkan kembali semangat masyarakat Sumbawa untuk mencapai prestasi nenek moyang mereka saat itu, misalnya sebagai pengekspor beras terbesar di Asia," katanya.
Menurut Tomi, untuk mewujudkan hal itu, masih dibutuhkan serangkaian penelitian dan penggalian di hutan yang dikepung perkebunan kopi itu. Hutan yang diyakini sebagai kuburan raksasa di kaki gunung yang masih menggelegak itu menanti muntah entah kapan.
DEDDY SINAGA | RINNY SRIHARTINI (BANDUNG) | WIKIPEDIA