Masih Ada Diskriminasi Terhadap Penderita HIV/AIDS
TEMPO Interaktif, Jakarta:Penderita HIV/AIDS masih sering mendapat perlakuan diskriminatif dari masyarakat. Tak jarang perlakuan tak menyenangkan mereka terima dari para petugas kesehatan yang seharusnya tahu seluk - beluk penyakit itu.
Stella Maris, 30 tahun, misalnya. Perempuan yang sudah sekitar 4 tahun menderita HIV ini mengaku pernah dijauhi perawat dan dokter sebuah rumah sakit di kawasan Jakarta Selatan pada 2003 karena diketahui mengidap HIV.
Yang lebih menyakitkan, perawat yang semula berbaik hati pada Stella lalu menggunakan masker dan sarung tangan saat mendekati dia. "Saya juga jarang ditengok oleh mereka. Dokternya pun menyapa dari jauh," ujarnya dalam jumpa pers di Warung Apresiasi, Bulungan, Jakarta, Kamis petang.
Sedangkan Bono, 27 tahun, dijauhi teman-temannya begitu mereka mengetahui dirinya terkena virus yang menyerang kekebalan tubuh itu. Akhirnya, Bono hijrah dari Bandung, Jawa Barat, ke Jakarta dan menjadi aktivis HIV/AIDS.
Menurut Bono, sikap masyarakat yang mendiskriminasi lebih sering disebabkan ketakutan berlebihan karena tidak ada informasi yang lengkap. "Membedakan HIV dengan AIDS saja mereka tidak tahu," kata pria yang baru menikah 3 minggu lalu ini.
Baik Bono dan Stella meminta pemerintah mensosialisaikan informasi seputar HIV/AIDS seintensif mungkin. Sehingga tidak ada lagi diskriminasi terhadap penderitanya. "Kami juga manusia yang berhak mendapat perlakuan adil," kata Bono. Pramono
Komentar (0)
Berita Terkait
Top Stories
Foto Terbaru
Editor's Choice
- Yahoo! Akan Beli Tumbrl Rp 10 Triliun
- Kantor Harian Radar Bone Dirusak
- Fathanah: Kekuatanku Sekarang Cuma Tuhan dan Sefti
- Selingkuh, Begini Fathanah Minta Maaf
- Peneliti Remaja Indonesia Borong 3 Medali Emas
- KPK Diminta Usut Dugaan Korupsi di Ditjen Kebudayaan
- Marquez Raih Pole Position di Moto GP Perancis













