Berita Terkait
Timbul Silaen Beri Keterangan di Komisi Kebenaran
TEMPO Interaktif, Jakarta:Mantan Kapolda Timor Timur semasa pelaksanaan jajak pendapat, Irjen GM. Timbul Silaen, hari ini menghadiri forum dengar pendapat yang digelar Komisi Kebenaran dan Persahabatan (KKP) Indonesia-Timor Leste. Timbul memberikan keterangan seputar peristiwa penyerangan yang terjadi pada masa itu.
Timbul menceritakan tanggung jawab keamanan di Timor Timur pada masa jajak pendapat ada di tangan kepolisian. Namun ia menilai beberapa peristiwa penyerangan yang terjadi disebabkan oleh dua hal. “Ada lubang-lubang yang tidak tuntas dalam pelaksanaan kesepakatan itu (kesepakatan otonomi khusus Timor Timur),” ujarnya.
Menurutnya, ketika kesepakatan itu ditandatangani, ada proses kantongisasi pelucutan senjata. “Pelucutan senjatanya tidak beres. Katanya senjata harus dilucuti dan dikumpulkan, tapi ternyata tidak,” ujarnya. Akibatnya, penyerangan terus terjadi. Faktor percepatan pelaksanaan jajak pendapat, menurut Silaen juga menjadi salah satu faktor.
Silaen dianggap bertanggung jawab atas serangkaian peristiwa penyerangan yang dilakukan pasukan pejuang prointegrasi terhadap para pengungsi di tiga kabupaten, yakni Liquica, Kovalima dan Dili pada April dan September 1999. Dia juga dituduh berkoordinasi dengan kelompok-kelompok penyerang.
Ketika ditanyakan tentang hal ini, Silaen mengelak. “Tidak ada koordinasi dengan kelompok-kelompok itu. Saya bahkan tidak tahu ada kelompok semacam itu. Apa yang saya lakukan hanya menjalankan tugas yaitu mengamankan wilayah Timor sesuai perintah dari atas,” katanya.
Ketika dikonfirmasi apakah benar dirinya bersama tokoh masyarakat Timor pernah merencanakan untuk membumihanguskan Timor Timur apabila kelompok prootonomi kalah, ia juga mengelak. “Logisnya, apakah mungkin timbul Silaen bicara tentang itu. Ya nggak mungkinlah! Mungkin ada yang ngomong soal bakar-membakar tapi saya tidak tahu,” ujarnya.
Ia juga mengatakan setelah pengumuman Tripartit (Indonesia-PBB-Australia), tingkat kekerasan justru menurun. “Tapi PBB juga tidak pernah peduli soal ini, mereka membiarkan saja ada kerusuhan,” katanya. Namun Silaen tetap berharap agar semua pihak tidak saling menyalahkan.
Kartika Candra





