Mayoritas Kosmetik Cina Berbahaya
TEMPO Interaktif, Jakarta:Badan Pengawas Obat dan Makanan menyatakan bahwa kebanyakan kosmetik dari Cina mengandung bahan berbahaya, merkuri. Menurut Kepala Badan Pengawas, Husniah Rubiana Thamrin Akib, merkuri merupakan racun yang dapat merusak berbagai organ tubuh.
"Bisa merusak saraf, ginjal, juga kulit," kata Ance, panggilannya, usai rapat kerja dengan Komisi Kesehatan DPR-RI di Gedung MPR/DPR, Jakarta, Senin siang.
Mayoritas kosmetik Cina, kata Ance, masuk secara ilegal. Sehingga, kosmetik itu tak melalui pengujian teknis dari Badan Pengawas. "Kosmetik itu diselundupkan bersama barang-barang lain yang masuk ke Indonesia," katanya.
Ia meminta masyarakat berhati-hati dalam memilih kosmetik, terutama kosmetik dari Cina. Cara yang paling gampang adalah dengan melihat ada tidaknya izin dari Badan Pengawas pada kemasan kosmetik. "Kalau ada izin, berarti sudah melewati pengujian".
Badan Pengawas, kata Ance, telah bekerja sama dengan bea dan cukai untuk mengawasi masuknya kosmetik ilegal. Selain itu, Badan Pengawas juga menjalin kerja sama dengan dinas perindustrian, perdagangan, dan Asosiasi Perusahaan Kosmetik (PERKOSMI).
Menurut dia, Badan Pengawas terus mengintensifkan pengawasan produk kosmetik yang beredar di pasar. Operasi pengawasan dilakukan di seluruh Indonesia dan melibatkan Balai Pengawas Obat dan Makanan Provinsi. Pengawasan dilakukan pada distributor, importir, dan pengecer kosmetik.
Hasilnya, Ance melanjutkan, selama triwulan pertama 2007, telah diperiksa 414 distributor kosmetik. Dari jumlah itu, sebanyak 129 distributor melakukan pelanggaran distribusi. "Kami menarik dan memusnahkan produk yang tak memenuhi persyaratan mutu dan keamanan," katanya. PRAMONO
Komentar (0)
Berita Terkait
Top Stories
Foto Terbaru
Editor's Choice
- Pakar: E-KTP Rawan Diretas
- Jokowi: Rumah Sakit Jangan Hanya Kejar Untung
- Calon Pasangan Terbaik Indonesian Movie Awards
- Frans Magnis: Dipo Alam Wajib Bela SBY
- Korban dan Pelaku Potong 'Burung' Jadi Tersangka?
- Foto-foto Langka Macan Tutul Jawa di Habitatnya
- Kisah 33 Tahun Tinggal di Bantaran Waduk Pluit














