Ikan Purba Manado Berbeda dengan Komoro
TEMPO Interaktif, Manado:Meski secara fisik kedua ikan itu amat mirip, materi genetiknya memiliki perbedaan, kata N. Gustaf F. Mamangkey, pakar ilmu kelautan dari Universitas Sam Ratulangi.
Seperti diketahui, ikan Coelacanth atau raja laut ditemukan nelayan Kelurahan Bahu, Justinus Lahama dan anaknya Delvi Lahama, 19 Mei lalu pukul 08.00 Wita. Ikan langka ini juga pernah ditemukan pada 1998 lalu di Pulau Manado Tua, kawasan Taman Nasional Bunaken.
Gustaf mengatakan perbedaan genetis raja laut Latimeria menadoensis dan ikan Coelacanth di Komoro (Latimeria chalumnae terjadi karena lokasi yang terpisah sangat jauh. Dalam surat elektronik, Jumat lalu, Gustaf menyatakan hewan sejenis yang berada di satu perairan saja kemungkinan memiliki karakter genetis berbeda. “Semakin jauh jaraknya, perbedaannya semakin tinggi,” katanya.
Kandidat PhD di School of Marine Biology & Aquaculture James Cook University Townsville, Queensland, Australia, itu menuturkan lokasi yang berjauhan itu membentuk spesies baru atau spesiasi. Untuk menguji apakah kedua individu itu berbeda spesies bila dilakukan dengan mengawinkannya. “Hasil hubungan ini, kalau toh ada, tak akan menghasilkan turunan lanjutan," ujarnya.
Namun pengujian secara biologis ini sulit dilakukan pada raja laut. Selain sulit diperoleh, ikan ini hanya bisa hidup pada laut dalam. Sehingga pengujian dilakukan dengan pendekatan evolusi yang dibantu karakter-karakter morfologis dan genetis.
Menurut Gustaf, karakter morfologis bisa saja sama. Namun karakter genetis pasti berbeda. Kemungkinan lain yang menguatkan perbedaan spesies seperti toleransi yang rendah pada perubahan lingkungan, terutama tekanan.
Ruang hidup kedua spesies ini berada pada tekanan dan kedalaman tertentu. Sekali terpisah secara fisik, dengan dugaan pernah terpisah puluhan juta tahun yang lalu, misalnya melalui proses perubahan alam. Kumpulan yang terpisah ini masih berada di ruang hidup yang sama walaupun substrat berbeda.
Kelompok yang terpisah ini, menurut Gustaf, bisa saja mengalami gangguan minor secara berkelanjutan sehingga proses adaptasi mereka berbeda dengan kelompok induknya. Gangguan-gangguan minor berupa perubahan pola makan, jenis makanan, pola reproduksi, dan lain-lain. Turunan lanjutan semakin kuat menghadapi gangguan minor yang semakin intens.
Dia mengatakan proses perubahan ini tidak terjadi hanya dalam sekejap. Proses ini memakan waktu ribuan sampai jutaan tahun. Proses spesiasi juga bukan hanya terjadi akibat daya adaptasi berkelanjutan. Bisa juga akibat perubahan karakter genetis seperti mutasi gen atau proses yang berada dalam internal tubuh.
verrianto madjowa
Web via