Saham-saham BUMN Tergerus


Topik

TEMPO Interaktif, Jakarta:Langkah pemerintah untuk mempercepat penawaran saham-saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ke publik (Initial Public Offering/IPO) diantisipasi oleh para big player (pemain besar) dengan melakukan aksi jual saham-saham BUMN yang listed di Bursa Efek Jakarta.

Strategi yang dilakukan ini diduga untuk mendapatkan harga tawaran murah saat privatisasi atau IPO saham BUMN dilakukan.

Hal ini tercermin dari transaksi sejak 23 Mei hingga 4 Juni 2007 kemarin pada 13 saham BUMN. Tujuh di antaranya mengalami penurunan rata-rata 5,38 persen. Penurunan terbesar terjadi pada saham PT Aneka Tambang Tbk. 14,92 persen dari Rp 15.750 menjadi 13.400 per saham.

Berikutnya, saham PT Timah turun 11,97 persen dari Rp 12.950 menjadi Rp 11.400 per saham, Indosat 2,86 persen dari Rp 7.000 menjadi Rp 6.800 per lembar, PGN turun 3,38 persen dari Rp 10.350 ke Rp 10.000 per saham. Sementara, BNI turun 2,97 persen dari Rp 2.525 ke Rp 2.450 per unit, BRI turun 0,79 persen, dan Bank Mandiri turun 0,77 persen.

Meneg BUMN Sofyan A. Djalil telah menetapkan divestasi 15 BUMN tahun ini, dari rencana sebelumnya 17 BUMN. Pemerintah menunda dua program privatisasi PT Krakatau Steel dan Bank Tabungan Negara (BTN). Rencananya pemerintah akan melepas 30-35 persen saham BNI ke pasar modal Juli nanti. Sebagian saham pemerintah di Bank Mandiri dan PGN kemungkinan besar juga akan di lego tahun ini.

Namun, kemarin dia membantah, penurunan sejumlah saham BUMN di bursa lantaran ada unsur kesengajaan untuk menjatuhkan harga saham perusahaan negara saat didivestasi. "Ini hanya kondisi sesaat dari transaksi pasar," ujarnya.

Menurut analis PT Sinarmas Sekuritas Alfiansyah, saham-saham perusahaan pemerintah di lantai bursa mengalami tekanan sejak Meneg BUMN berencana mempercepat privatisasi dan IPO. "Aksi jual dilakukan guna mendapatkan harga tawaran rendah saat privatisasi nanti," katanya.

Padahal, kata dia, saham-saham BUMN ini tergolong bagus dengan fundamental solid dan memberi dividen yang besar. "Jika saham-saham BUMN terus ditekan, likuiditas sahamnya akan berkurang," jelas dia.

Sementara, pengamat pasar modal Edwin A. Sinaga menilai, koreksi harga saham BUMN adalah wajar karena sepenuhnya hasil mekanisme pasar. "Kenaikan saham-saham BUMN dinilai sudah berada pada posisi jenuh beli. Investor mengambil keuntungan ditengah isu stock split Aneka Tambang dan belum adanya kesiapan PGN merealisasikan proyek-proyek besar," kata dia.

I MUCHTAR WIJAYA (PDAT)/BUDIRIZA

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X