Aminorang, Kami Ada
TEMPO Interaktif, Maumere:
Kearifan lokal menghadapi bencana tak hanya ada di Pulau Simeuleu di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Bila di Aceh ada teriakan “Smong” maka di Maumere, Sikka, Nusa Tenggara Timur, ada “Aminorang”.
Keduanya memang tak sama persis terutama dalam pengertiannya. Bila Smong berarti perintah agar masyarakat lari ke gunung untuk menghindari air laut, maka Aminorang adalah semacam seruan agar Yang Empunya bumi ini menghentikan bencana.
Aminorang dalam bahasa Sikka berarti “Kami ada”. “Biasanya diucapkan pada saat keadaan yang menakutkan, agar tidak celaka,” kata Johanes Mannes Tiwang, salah seorang tokoh masyarakat Maumere kepada Tempo di Maumere, Nusa Tenggara Timur, pada rabu pekan lalu.
Sesaat setelah aminorang diserukan, maka masyarakat pun membunyikan tetabuhan mulai dari panci sampai kentongan. Mannes mengatakan bebunyian itu dilakukan sebagai penanda bahwa masih ada kehidupan di atas permukaan bumi.
“Bahkan ada pula yang menarik telinga babi atau anjing sampai binatang itu menjerit kesakitan,” kata Wihelmus Manes, seorang pemetik gambus asal Maumere.
Setelah bebunyian diperdengarkan dan warga saling mengucapkan aminorang, mereka akan berlarian mencari tempat yang aman. Irina Rafliana, Koordinator Pendidikan Publik Program Kesiapsiagaan Masyarakat LIPI, mengatakan kearifan lokal ini bermakna masyarakat Sikka tak boleh saling meninggalkan ketika bencana.
Aminorang inilah yang dimanfaatkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk meningkatkan kesiagaan masyarakat menghadapi gempa. “Ini social capital yang penting dalam menghadapi bencana,” kata Irina.
DEDDY SINAGA














