Universitas Brawijaya Ajukan Proposal Penanganan Lumpur
TEMPO Interaktif, Malang:
Kelompok Kajian Kebumian dan Mitigasi Bencana (K3MB) Universitas Brawijaya mengajukan proposal penanganan semburan lumpur Sidoarjo kepada Sekretariat Dewan Riset Nasional, Rabu (20/6). Tim berharap proposal ini bisa dipresentasikan terlebih dahulu pada Workshop Penanganan Semburan Lumpur Sidoarjo sebelum dilaksanakan.
"Proposal ini mendapat respons yang baik dari Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS)," kata Koordinator K3MB Universitas Brawijaya, Nurhuda.
Metode penanganan yang ditawarkan adalah dengan insersi batuan ke dalam lubang semburan. Menurut Nurhuda, cara yang dipakai adalah mematikan aliran air purba dengan cara menimbun menggunakan batuan beku dalam skala masif.
"Dengan terputusnya aliran air, diharapkan proses pembentukan lumpur yang terjadi pada kedalaman sekitar 1.500-2.000 meter di bawah permukaan tanah akan terhenti secara alami," katanya.
Metode insersi batuan beku ini sejalan dengan metode relief well atau side tracking. Perbedaannya terletak pada cara dan materi yang diinsersikan untuk mematikan lumpur tersebut. Apalagi, kata Nurhuda, karena menggunakan batuan beku atau batuan hitam (andesit), maka biaya metode ini murah dan efektif. Nurhuda memperkirakan biaya yang diperlukan jika memakai metode ini masih di bawah Rp 100 milyar.
Batuan beku adalah batuan yang terbentuk dari lava. Berbentuk keras, elastis dan mempunyai struktur pori-pori yang sangat rapat, batuan ini mempunyai titik didih tinggi. Karakter ini membuat batuan beku tahan terhadap tekanan dan suhu tinggi seperti yang terjadi di kawah lumpur. "Massa jenis batuan beku yang lebih tinggi dari beton merupakan jaminan bahwa bongkahan batuan beku tidak akan mengapung bila dimasukkan ke lubang semburan," ujar Nurhuda.
Selain itu, bentuk bongkahan batuan beku yang tidak beraturan akan memberikan efek gaya gesek yang besar pada dinding lubang semburan, sehingga bongkahan batuan akan lebih mudah tersangkut, apalagi gila salah satu penampanganya berbentuk lancip. Bentuk batuan yang tak teratur juga akan memastikan bahwa semburan lumpur tidak akan langsung terhenti jika disumbat, tetapi mengalir melalui celah-celah yang masih terbuka. "Untuk mengurangi kemungkinan terjadinya blow-out akibat tekanan berlebih karena penyumbatan."
Ukuran bongkahan yang akan dimasukkan minimal berukuran 40 cm. Pilihan ini didasarkan atas fakta bahwa bola beton dengan diameter di atas yang pernah dimasukkan ke dalam lubang semburan meluncur terus ke bawah tanpa hambatan. Setelah itu, ukuran bongkahan yang dimasukkan dinaikkan menjadi 50 cm, 60 cm hingga 100 cm. Menaikkan secara pelan-pelan ukuran batuan beku ini bertujuan untuk menghindari kemungkinan terjadinya blowout. Bibin Bintariadi



