Korban Bedil yang Pertama


TEMPO Interaktif, Lima:

Kompleks pemakaman masyarakat Inca di Peru itu nyaris terlupakan sejak ditemukan puluhan tahun lalu. Bahkan pemerintah setempat bermaksud menggusurnya untuk pembangunan seruas jalan.

Namun sejak ditemukannya sebuah tengkorak pada 2004, kompleks itu pun menjadi buah bibir. Tengkorak itu menjadi dokumentasi tertua korban letusan bedil di daratan Amerika.

“Bisa jadi ada orang Inca dan masyarakat asli Amerika lain yang dibunuh oleh orang Eropa sebelum dia, tapi inilah data tertua yang ada sejauh ini,” kata Guillermo Cock, seorang arkeolog Peru yang memimpin penggalian tersebut, di Lima kemarin.

Kompleks pemakaman itu terletak di suburban Puruchuco di salah satu sudut Kota Lima, ibukota Peru. Di sana Cock dan timnya menemukan 72 kerangka manusia yang dikuburkan tanpa perlakuan lazimnya masyarakat Inca, sejumlah mumi, dan kerangka yang memperlihatkan tanda-tanda terbunuh akibat senjata api.

Berdasarkan metode pertanggalan karbon, kerangka-kerangka manusia di pemakaman itu berusia sekitar 500 tahun. Ini sesuai dengan catatan sejarah mengenai perang antara masyarakat Inca, penghuni asli daratan itu, melawan tentara Spanyol pada awal era 1500an.

Tulang belulang itu terkubur tak terlalu dalam di bawah tanah. Cock dan timnya berspekulasi, para korban dikuburkan terburu-buru lantaran perang masih berkecamuk.

“Beberapa tubuh tampak ditetak, ditanduk, disula—cedera yang tampak disebabkan senjata besi—dan beberapa cedera tampak di kepala dan wajah yang tampak akibat senjata api,” kata Cock.

Namun temuan sebuah tengkorak menarik perhatian tim itu secara khusus. Tengkorak kepala itu berlubang di bagian depan tembus ke belakang. Awalnya mereka menduga manusia itu terbunuh antara 5, 10, atau 20 tahun lalu.

Tapi menurut Cock, bila tengkorak itu terbunuh akibat tembakan pada masa kini, mestinya jejaknya tak sebulat itu. Tembakan senjata api masa kini biasanya meninggalkan jejak tulang yang hancur. Adapun lubang di tengkorak itu bundar, tampak seperti ditembus peluru laher (musket ball) yang berukuran kurang dari 1 inci.

Demi penelitian lebih lanjut, Cock pun melibatkan ahli forensik Tim Palmbach dari Universitas New Haven dan Al Harper, Direktur Institut Ilmu Forensik Henry C. Lee di New Haven, Amerika Serikat.

Harper mengatakan, mereka mencoba memastikan apakah lubang di tengkorak itu disebabkan oleh sebutir batu dari pengumban, lembing, atau sebuah palu besar. Mereka lantas mempelajari lubang itu dengan mikroskop elektronik.

“Kami semua berpikir ada satu sampai sejuta kesempatan bahwa kami akan menemukan jejak logam pada tengkorak setua itu, tapi ternyata tidak sia-sia,” kata Harper.

Jejak itu berhasil ditemukan: fragmen logam dari sebuah bola laher logam memenuhi daerah sekitar lubang. Peluru jenis itu adalah amunisi yang biasa dipakai tentara Spanyol pada masa pendudukan daratan Amerika alias Dunia Baru.

Cock dan timnya pun bersorak. “Ini memberikan kami bukti positif bahwa individu ini tewas semasa pendudukan dan dibunuh oleh senjata api,” kata Cock.

Bagi Peru ini menjadi catatan tersendiri. “Kami belum pernah memiliki bukti mengenai korban senjata api yang terkait dengan epik tentang Spanyol dan Dunia Baru,” kata Carlos G. Elera, Direktur Museum Nasional Sicán Peru.

Profesor antropologi dari Universitas Yale, Richard Burger, mengatakan temuan itu adalah contoh pertama masyarakat asli Amerika yang terbunuh oleh senjata api. Sebetulnya Spanyol sudah menduduki kawasan Karibia dan Meksiko sebelum ke Peru, jadi kemungkinan ada korban lain yang jauh lebih tua.

Hanya saja belum ada bukti yang terungkap ke permukaan. Jadi, “Temuan Cock itu tentu menjadi sangat penting,” katanya.

DEDDY SINAGA | NATIONAL GEOGRAPHIC | USATODAY | AP | WASHINGTON POST | WIKIPEDIA

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X