Topik
Indosat Investasikan US$ 220 Juta Untuk Satelit
TEMPO Interaktif, Jakarta:PT Indosat Tbk menginvestasikan sebesar US$ 220 juta untuk pengadaan satelit Palapa D yang akan diluncurkan pada kuartal ketiga 2009. Satelit yang akan menggantikan Palapa C2 itu dipesan dari Thales Alenia Space France dan diluncurkan dari China melalui Long March 3B.
Direktur Utama Indosat Johnny Swandi Sjam mengatakan, jangkauan satelit Palapa D akan meliputi seluruh negara Asia, Timur Tengah, dan Australia. "Satelit ini akan menjadi backbone (tulang punggung) jaringan seluler, data, dan multimedia," kata Johnny di Gedung Indosat, Jakarta, Jumat (29/6) sore.
Dia menjelaskan satelit Palapa D akan menempati slot orbit 113 Bujur timur (BT) yang kini diisi satelit Palapa C2 yang masa operasinya berakhir pada 2010. Satelit Palapa C2 dibuat oleh Huge Spacecraft yang diluncurkan pada Mei 1996 dengan masa operasi 14 tahun.
Nantinya, Palapa C2 akan direlokasi ke slot 150,5 BT yang saat ini statusnya masih diperjuangkan Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi dalam forum International Telecommunication Union (ITU) agar bisa dimiliki oleh Indonesia.
Johnny mengungkapkan, tender pembangunan satelit Palapa D telah dibuka sejak Oktober 2006. Kala itu, Indosat mengundang sembilan perusahaan dari China, Amerika serikat, dan Prancis untuk ikut serta. Namun pada akhirnya hanya ada lima perusahaan yang menyatakan minatnya untuk mengikuti tender. "Akhirnya kami memilih Thales dengan pertimbangan solusi dan teknologi yang ditawarkan," ujarnya.
Palapa D, lanjut dia, memiliki spesifikasi teknis yang lebih tinggi dari Palapa C2, yaitu berkapasitas 40 unit transponder, dengan pembagian 35 unit untuk C-band dan lima unit untuk Ku-band dan jangkauan yang mencakup sepertiga wilayah bumi. Sementara Palapa C2 hanya berkapasitas 36 transponder dan hanya melayani wilayah barat Indonesia. Transponder merupakan alat yang menerima percakapan dalam satu frekuensi, kemudian memperkuatnya serta mentransmisikannya kembali ke bumi melalui frekuensi lain.
Dalam sebuah satelit komunikasi biasanya menggunakan geosynchronous transponder yang beroperasi pada ketinggian 42.164 km dari pusat bumi atau 35.786 km di atas permukaan laut. "Sebesar 60 persen kapasitas Palapa D akan digunakan untuk pemakaian internal dan 40 persen lainnya akan dijual," ujarnya.
Chief Executive Officer Thales Alenia Space France, Pascale Sourisse, mengemukakan bahwa angka investasi itu meliputi biaya pembuatan satelit, peluncuran, asuransi peluncuran, dan peningkatan kemampuan stasiun pengendali satelit termasuk sumber daya manusia di Indosat. "Kami pastikan program ini akan sukses," ujarnya.
Eko Nopiansyah | Muslima Hapsari





