Pelanggaran Hak Buruh di Banglades Diselidiki
Topik
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Peretail busana berharga murah asal Inggris, Asda, tengah menyelidiki tuduhan pelanggaran hak buruh mereka di fasilitas produksi Banglades. Demikian diberitakan Harian The Guardian, Senin (16/7) seperti dikutip AFP.
Menurut wawancara harian itu dengan para buruh dari tujuh pabrik yang berbeda di negara itu, pabrik yang juga mensuplai barang untuk Tesco dan Primark, memaksa buruh untuk bekerja hingga 84 jam seminggu dengan gaji yang sangat rendah dalam kondisi (ekonomi) yang sulit.
Padahal, tiga pabrik milik Asda itu memberikan kontribusi sebesar 43 persen dari nilai pasar busana Inggris 7,8 miliar Pounds (setara dengan 11,5 miliar Euro atau US$ 15,9 miliar).
Buruh pabrik itu mengatakan bahwa mereka menolak akses ke serikat dagang dan menyatakan bahwa empat buruh telah dipecat bulan lalu karena berusaha membentuk serikat pekerja.
Azizul, 28 tahun, mengatakan bahwa dia telah dipecat dari pabriknya karena mengambil dua hari ijin untuk membawa bayinya ke rumah sakit, dan Parvin, 25 tahun, mengatakan dirinya "diancam dan ketakutan" setelah atasannya menampar rekan kerjanya karena tak memenuhi target.
The Guardian mengatakan, buruh pabrik itu digaji sangat rendah, sehingga mereka berjuang keras untuk mencukupi keluarga meski para buruh telah bekerja lebih dari 84 jam seminggu.
Juru bicara Asda mengatakan bahwa pihaknya akan mengaudit ulang seluruh fasilitasnya di Banglades. "Kami menemukan pelanggaran yang tak bisa diterima."
"Nampaknya satu dari pabrik kami, yang telah diaudit tiga kali setahun, telah memberikan pekerjaannya kepada pabrik lain tanpa sepengetahuan kami dan bertentangan dengan keinginan kami."
Primark mengatakan bahwa perusahaannya telah mengaudit seluruh pemasok dari Banglades dalam kurun enam bulan ini dan telah menyetujui program remediasi dengan pekerja yang pelanggaran.
Sementara itu, Tesco, mengatakan bahwa mereka tak bisa menanggapi tuduhan yang dibuat oleh The Guardian karena harian itu tak menyebutkan secara spesifik, pabrik yang telah melakukan pelanggaran. Juru bicaranya menambahkan, Asda telah melakukan audit mendadak ke seluruh fasilitas produksi di Banglades.
Pemilik pabrik di Banglades, yang memasok untuk Amerika Serikat dan Jerman, mengatakan bahwa pembeli akan meninggalkannya kecuali ia menetapkan gaji yang rendah.
"Pembeli yang datang ke Banglades berkata kepada kami, 'Kami bussinesmen, kami ingin menghasilkan uang. Kalau harga di Cina lebih rendah, kami akan ke sana'," ujarnya seperti dikutip oleh The Guardian.
Rieka
Komentar (0)
Berita Terkait
Top Stories
Foto Terbaru
Editor's Choice
- Peneliti Remaja Indonesia Borong 3 Medali Emas
- KPK Diminta Usut Dugaan Korupsi di Ditjen Kebudayaan
- Marquez Raih Pole Position di Moto GP Perancis
- Pesona Keindahan Danau Tempe
- Mundur, RS Admira Beralasan Tarif Baru KJS
- Studio Film James Bond Undang Produser Indonesia
- Ahmad Fathanah Doyan ke Kafe Dangdut?
Berita Utama Bisnis
- Pengusaha Mebel Ingin Kepastian Harga BBM
- SBY Masih Rahasiakan Soal Menteri Keuangan Baru
- Pasar Kosmetik Ditargetkan Tembus Rp 11 Triliun
- Hatta Tanda Tangani Surat Pemberhentian Oknum Pajak
- ASEI Raih Peringkat BBB- Dari Fitch Ratings
- Merek Asli Indonesia Bakal Bangkit Lagi
- Harga Properti Kelas Menengah Melambung













