Inspirasi dari Capung
TEMPO Interaktif, Amsterdam:
Sebelum menciptakan RoboSwift, mahasiswa-mahasiswa Universitas Delft telah memancing perhatian dunia penerbangan ultra kecil dengan menciptakan pesawat mini bernama DelFly. Sementara RoboSwift terinspirasi dari burung layang-layang, DelFly terinspirasi dari capung.
Pesawat ini tercipta pada Juni 2005 dan ditampilkan pertama kali untuk mengikuti simposium tahunan Fakultas Teknik Penerbangan Universitas Teknologi Delft. Pada September tahun yang sama, DelFly diikutkan pada kompetisi First US-European MAV (Micro Aerial Vehicles) di Garmish-Partkirchen di Jerman.
Sementara di kandangnya DelFly meraih penghargaan desain terbaik, di Jerman pesawat yang beratnya hanya 17 gram itu memenangkan hadiah sebesar US$ 35.000 untuk desainnya yang unik.
DelFly terbang dengan cara yang persis seperti capung. Tubuhnya yang "kurus" diangkat oleh satu set sayap yang bisa mengepak. Ya! Mengepak seperti capung. "Karena pesawat menjadi begitu kecil, memberinya sayap yang bisa mengepak seperti burung adalah proporsi yang menarik," kata Christophe de Wagter, salah satu dari 11 mahasiswa yang terlibat dalam proyek itu.
Model sayap ini membuat DelFly bisa melayang pada satu titik dan terbang dengan kecepatan yang masuk akal, tak ubahnya helikopter namun lebih stabil. Semuanya bertumpu pada dua set sayap yang bergabung pada satu titik poros, persis sayap capung.
DelFly yang digerakkan motor listrik bertenaga baterai itu sanggup membawa kamera video di hidungnya. Itulah sebabnya, pesawat ini cocok untuk pekerjaan pengamatan muka bumi dan kegiatan penelitian lainnya.
Sayapnya terbuat dari kayu balsa yang dilapisi serat karbon ultra tipis dan kertas Mylar. Adapun bagian tubuhnya terbuat dari serat karbon diperkuat dengan logam dan silikon sehingga fleksibel. Di bagian tubuh ini ditaruh motor listrik dan roda transmisi (girboks). Gerakan dan laju pesawat dikontrol dari darat dengan radio control.
Proyek ini juga disupervisi oleh David Lentink, sosok yang berperan pada pembuatan RoboSwift. Dia adalah alumni Delft yang kini bekerja sebagai peneliti di Universitas Wageningen dan Institut Teknologi California.
Lentink adalah sosok yang sudah lama berkecimpung pada pembuatan pesawat ultra kecil. Dia banyak mengambil inspirasi dari burung dan serangga, yang diterapkannya pada RoboSwift dan DelFly.
"Masalah utama adalah sedikitnya literatur untuk menciptakan pesawat kecil dengan sayap mengepak dan faktanya sangat sedikit pula pesawat bersayap mengepak yang berhasil diciptakan," kata Lentink.
Menurut Lentink, aerodinamika sangat kecil perannya pada sayap yang mengepak. Pada 1930an, kata dia, pernah ada ahli aerodinamika yang menemukan bahwa komposisi tubuh serangga sebetulnya tak memungkinkannya terbang, kecuali oleh karena bantuan model sayapnya.
DEDDY SINAGA | NETWORKWORLD | TUDELFT
Komentar (0)
Berita Terkait
Top Stories
Foto Terbaru
Editor's Choice
- Pakar: E-KTP Rawan Diretas
- Jokowi: Rumah Sakit Jangan Hanya Kejar Untung
- Calon Pasangan Terbaik Indonesian Movie Awards
- Frans Magnis: Dipo Alam Wajib Bela SBY
- Korban dan Pelaku Potong 'Burung' Jadi Tersangka?
- Foto-foto Langka Macan Tutul Jawa di Habitatnya
- Kisah 33 Tahun Tinggal di Bantaran Waduk Pluit
Berita Utama Teknologi
- Torpedo Tua yang Ditemukan Si Lumba-lumba
- Samsung Yakin Kuasai Pasar Notebook Indonesia
- Australia Kembangkan Gas Dari Kotoran Babi
- Yahoo! Pindah ke Gedung New York Times
- David Karp, 'Drop Out' SMA yang Kaya dari Tumblr
- Samsung Galaxy S4 Active, Ponsel Anti-Debu dan Air
- 8 Tahun YouTube, 100 Jam Video Diunggah per Menit














