Pemerintah Nilai Harga Divestasi BNI Optimal
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah menilai harga saham PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BNI), dalam proses penawaran saham umum kedua (secondary public offering) sebesar Rp 2.050 per saham sudah optimal
Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Sofyan Djalil mengatakan penawaran saham kedua BNI dilakukan saat kondisi pasar relatif buruk karena dipicu penurunan saham di Amerika Serikat yang juga berpengaruh pada penurunan saham di seluruh dunia. “Maka harga yang kami dapatkan adalah seperti yang kami umumkan (Rp 2.050)," ujarnya usai menggelar pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Jakarta kemarin.
Dia menjelaskan telah melaporkan ke Presiden tentang kondisi pasar yang ada dan menjelaskan kenapa ditetapkan harga Rp 2.050 dalam pelaksanaan divestasi lanjutan BNI. Menurut Sofyan, Presiden memahami kondisi pasar modal yang sulit seperti ini. “Malah Presiden mengaku puas terhadap proses tersebut,” ujarnya.
Proses penawaran saham kedua, Sofjan melanjutkan, berjalan dengan sukses. Investor yang ingin membeli saham saat masa pengumpulan minat membludak. “Ini cukup memuaskan, dan terjadi kelebihan permintaan (over subscribed)," katanya. Berapa kelebihan itu, Sofjan enggan menjelaskannya. “Baru bisa diketahui Senin depan."
Adapun, Direktur Utama BNI Sigit Pramono yang ikut mendampingi Menteri Sofyan mengatakan harga yang terbentuk dalam penawaran umum saham kedua perseroan harga yang terjadi karena permintaan pasar.
"Tidak ada istilah harga optimal atau tidak. Itu harga yang sudah dibentuk," katanya. Dia juga memastikan penetapan harga tidak berkaitan dengan target pemenuhan dana untuk anggaran negara.
Terkait dengan dengan penghentian sementara (suspensi) perdagangan saham di bursa sejak Rabu (8/8) lalu, menurut Sigit itu adalah bagian dari bagian dari proses melakukan penawaran saham. Langkah tersebut dilakukan untuk melindungi pemegang saham agar tidak terjadi permainan harga. "Jika terjadi spekulasi dengan mempermainkan harga, semua akan rugi," katanya.
Sebelum suspensi saham BBNI pada transaksi Selasa (7 Agustus) turun 6,59 persen dari Rp 2.275 menjadi Rp 2.125 per saham senilai Rp 5,42 miliar. Bahkan harga sudah terkoreksi 25,44 persen dari penutupan harga tertingginya Rp 2.850 per saham pada 25 Juli lalu.
FANNY FEBIANA/ MUCHTAR WIJAYA
Komentar (0)
Berita Terkait
Top Stories
Foto Terbaru
Editor's Choice
Berita Utama Bisnis
- Pemerintah Ajukan Dana BLSM Rp 11,6 Triliun
- 22 Bank Dilibatkan dalam Program Pembiayaan Rumah
- Dua Jurus Chatib Basri Meredam Inflasi
- Hari Ini, Chatib Basri Bahas APBN Perubahan 2013
- Freeport Berhenti, Negara Rugi US$ 1,82 Juta/Hari
- ESDM: Seluruh Korban Longsor Freeport Ditemukan
- Harga BBM Naik, Pemerintah Bikin Tim Sosialisasi














