Menteri Pertanian Larang Batam Mengimpor Telur
Topik
TEMPO Interaktif, Jakarta:Menteri Pertanian Anton Apriyantono meminta Badan Otorita Batam tidak mengimpor telur. Impor tersebut dinilai bertentangan dengan kebijakan pemerintah. Batam sebagai kawasan otoritas tidak boleh bertindak sendiri tanpa berkoordinasi dengan pemerintah pusat.
Sebelumnya, Batam mengimpor telur ayam asal Malaysia sebesar lima persen dari produksi telur nasional. Telur ini diimpor dalam rangka mengantisipasi kebutuhan masyarakat akan telur saat Lebaran nanti.
Anton mengatakan Batam sebagai daerah otoritas tidak boleh melanggar kebijakan nasional dengan memasukkan telur dari Malaysia. "Kalau Otorita (Batam) bertindak sendiri, ini berbahaya," katanya akhir pekan lalu. Bila Batam masih melakukan tindakan ini, pemerintah tidak segan akan memberikan peringatan.
Dia menjelaskan pemerintah pusat masih melarang daerah memasukkan produk hasil unggas, seperti telur, dari negara-negara yang diduga mengalami endemis suatu penyakit, seperti flu burung. "Ini bisa membahayakan," ujarnya.
Kebijakan ini juga diambil untuk melindungi produksi produk unggas dalam negeri yang sudah dianggap cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. "Impor telur memang tidak ditutup, tapi kami batasi. Sebab, kalau tidak diproteksi, harga telur dalam negeri bisa jatuh. Bila itu terjadi, siapa yang dirugikan?" kata Anton mengingatkan.
Sementara itu, Ketua Gabungan Asosiasi Pengusaha Makanan Dan Minuman Indonesia Thomas Darmawan mengatakan impor telur dari Malaysia dimaksudkan untuk mengantisipasi kebutuhan masyarakat pada hari-hari besar keagamaan. "Apalagi, setelah dicek, Malaysia bukan negara yang mengandung penyakit, jadi sah-sah saja," ujarnya kepada Tempo kemarin.
Produksi telur ayam dalam negeri hingga saat ini mencapai sekitar 864 ribu ton. Sedangkan kebutuhan telur nasional sekitar 766 ribu ton. Angka tersebut berdasarkan asumsi konsumsi telur di Tanah Air 3,41 kilogram per minggu. Menjelang bulan puasa dan Lebaran, permintaan atas telur diperkirakan naik.
Sebelumnya, Thomas memperkirakan harga telur tahun ini cenderung di atas Rp 9.000 per kilogram dengan kecenderungan yang terus naik hingga 4 Agustus lalu. Ia juga memperkirakan pada Oktober nanti, yang bertepatan dengan Idul Fitri, permintaan telur akan bertambah dan menyebabkan produksi mengalami kekurangan sebanyak 13.951 ton.
Namun, Thomas optimistis angka itu masih bisa dipenuhi oleh produksi dalam negeri. "(Telur) untuk pembuatan roti dan konsumsi hotel besar memang menggunakan telur impor, tapi dalam bentuk telur olahan (tepung telur)," ujarnya.
l CHETA NILAWATY
Komentar (0)
Berita Terkait
Top Stories
Foto Terbaru
Editor's Choice
- Lepas Empat Istrinya, Eyang Subur Tak Perlu Cerai
- Muslim Myanmar Hanya Boleh Punya 2 Anak
- Djokovic Bisa Jegal Nadal di Semifinal
- Saksi Penyerangan Cebongan Tak Mau Beri Keterangan
- MI5 Dituding Coba Rekrut Tersangka Kasus Woolwich
- Bupati Aceh Utara Dianggap Berpikiran Sempit
- FOTO: Pamer Aksi Bintang Dunia di Singapura
Berita Utama Bisnis
- Sistem Jaringan Bandara Soetta Alami Gangguan
- Agus Marto Dilantik Jadi Gubernur Bank Sentral Hari Ini
- Harga BBM Naik, Golkar Setuju Ada BLSM
- UMR Naik Diklaim Bikin UKM Tutup
- Gerindra Tak Bangga Ekonomi Tumbuh 6,2 Persen
- Krakatau Steel Pastikan Proyek Posco Tetap Lancar
- Dahlan Minta Konsep Jalan Layang Tol Dimatangkan













