Krisis Listrik Melanda Gaza


TEMPO Interaktif, Kota Gaza: Sejumlah besar wilayah di Jalur Gaza ahri ini gelap-gulita sejak pembangkit listrik terakhir dipadamkan pada Ahad lalu. Generator dan lilin ludes dari rak-rak toko dan pasar ketika penduduk menimbunnya untuk mengantisipasi krisis energi yang tak menentu ini.

Krisis listrik melanda wilayah Palestina paling padat itu sejak Uni Eropa menghentikan pengiriman bahan bakar bantuan untuk pembangkit listrik tersebut pada Jumat lalu.

"Hidup kami makin menjadi susah," kata Umm Jaber, perempuan berusia 40 tahun, di Kota Gaza. "Mereka telah menutup perbatasan, mereka lalu menghapus pekerjaan. Kini mereka mematikan listrik, besok mereka akan mengambil udara kami pula," kata ibu enam anak itu.

Pemadaman listrik ini menjadi pukulan termutakhir terhadap wilayah yang praktis ditutup oleh Israel sejak gerakan Islam Hamas mengambil alih kendali kawasan itu dari tangan Fatah dua bulan lalu.

Pemadaman ini dimulai Jumat lalu ketika satu-satunya pembangkit listrik di Gaza mematikan tiga dari empat generatornya karena pasokan minyak solar seret setelah Israel menutup pintu perlintasan Nahal Oz, jalur masuk bahan bakar itu, dengan alasan keamanan.

Israel membuka kembali jalur itu Ahad lalu, tapi pasokan solar tak dapat dikirim karena Uni Eropa, yang selama ini mendanai pasokannya, menunda pembayaran karena "alasan keamanan".

"Wakil Uni Eropa meminta kami tak mengirim solar (ke Gaza) karena tak ada jaminan bahwa kami akan mendapat jaminan pembayaran atas bahan bakar itu," kata perusahaan minyak Dor Alon dalam pernyataannya.

Alix de Mauny, juru bicara Uni Eropa, membenarkan bahwa pihaknya telah menunda pembayaran minyak tersebut, tapi menyatakan keputusan tetap belum diambil.

l AFP | BBC | AP | IWANK

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X