Pesawat Adam Air dan Garuda Nyaris Benturan


TEMPO Interaktif, Jakarta:
Pesawat milik maskapai Adam Air dengan nomor KI 237 jurusan Pangkal Pinang – Jakarta nyaris berbenturan dengan pesawat Garuda Indonesia GA 156, Minggu (26/8) pukul 16.30. “Di langit sekitar utara Jakarta,” kata Direktur Komunikasi Adam Air Danke Drajat, ketika dihubungi Selasa (28/8) malam.

Insiden itu bermula ketika pesawat Adam Air sedang bersiap mendarat di Bandara Soekarno-Hata, Jakarta. Danke menerangkan, di ketinggian 20 ribu kaki, pesawat Adam Air diperintahkan petugas menara pengatur lalu-lintas udara untuk turun di ketinggian 8 ribu kaki.

Sampai ketinggian 16 ribu kaki, instruksi dikoreksi agar turun di 10 ribu kaki, karena ada pesawat Garuda yang diinstruksikan mengambil posisi 9 ribu kaki setelah lepas landas.

Mencapai ketinggian 12 ribu kaki, lanjut Danke, alat Traffic Alert & Collision Avoidance System (TCAS) di pesawat Adam Air memberi petunjuk bahwa ada pesawat lain berjarak 2 ribu kaki di bawahnya. Pesawat tetap turun, dan di ketinggian 11,5 ribu kaki, TCAS memberikan perintah agar pesawat dinaikkan. “Climb, climb,climb,” Danke menirukan. Saat itulah pesawat Garuda melintas di bawah.

Kejadian itu kemudian dilaporkan oleh Capten Yudianto, pilot bersangkutan, ke Direktorat Kelaikan dan Serifikasi Udara serta ke Komite Nasional dan Keselamatan Transportasi (KNKT). Kata Danke, tindakan melapor itu mengikuti ketentuan regulasi keselamatan penerbangan sipil (Civil Aviation safety Regulation). Kronologi kejadian yang diceritakan, menurut Danke, sesuai dengan laporan.

Ketua KNKT Tatang Kurniadi mengaku belum mencermati kejadian itu. “Ada laporan dari pilot Adam Air, bahwa di ketinggian sekitar 11 ribu melihat pesawat lain,” katanya. “Tapi belum tahu apakah itu yang dimaksud.”

Menurut Tatang, jika kejadian nyaris tabrakan itu terjadi, ada banyak kemungkinan penyebabnya. Bisa jadi antara lain kesalahan petugas Air Traffic Control atau mungkin karena pengaruh angin. “Kalau benar terjadi, spektakuler. Ini masih simpang siur,” ujarnya.

Dari pihak PT Angkasa Pura II yang membawahi bandar udara lokasi insiden, belum ada keterangan rinci. “Sedang diinvestigasi dan akan kami laporkan ke Departemen Perhubungan,” kata Direktur Utama Angkasa Pura II Eddy Haryoto melalui pesan pendek.

Adapun Direktur Operasi Garuda Indonesia Ari Sapari mengaku belum menerima laporan insiden tersebut. Dia menyayangkan publikasi kejadian itu, yang dinilai tergesa-gesa.

“Insiden ini istilahnya airmiss, ada prosedurnya. Bikin laporan lanjut penyelidikan,” ia mengeluh. “Kalau belum-belum diumumkan, sama saja merusak penerbangan nasional.” Harun Mahbub

Komentar (1)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
0
0
menurut saya solusix adalah dgn mengadakan seleksi pilot terbaik agar keamanan penerbangan lebih terjaga
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X