Si Hitam yang Laris-Manis


TEMPO Interaktif, Jakarta:

Kedua lelaki itu tampak kuyu. Tapi mereka tetap duduk dengan tenang di ruangan berpenyejuk udara yang tampak sesak tersebut.

"Saya antre sejak pukul delapan pagi," kata A Sen, salah satu dari kedua pria itu, kepada Tempo di kantor distributor Esia di kompleks Ruko ITC Roxy Mas, Jakarta Barat, Kamis sore pekan lalu.

A Sen dan pria satunya, Jimmy, adalah dua dari lebih dari 400 orang yang menyesaki kantor itu sejak pagi. Mereka sabar menanti sampai dapat membawa pulang Huawei C2601, telepon seluler murah dari Esia.

Inilah ponsel code division multiple access alias CDMA termurah di pasaran saat ini. Harganya dibanderol Rp 199 ribu atau Rp 220 ribu setelah ditambah pajak.

Pembelinya pun mendapat bonus nomor perdana Esia dan bonus bicara 1.000 menit (senilai Rp 50 ribu).

Bonus-bonus ini membuat peminatnya berjubel. "Kan, ada pulsa gratis enam bulan, jadi tidak usah membeli pulsa," kata A Sen, karyawan di kawasan Proyek Senen itu. Kartu antreannya bernomor 299 dan dia baru dipanggil pada pukul 17.00 WIB.

Adapun Jimmy, 40 tahun, rela antre sejak pukul 10.00 WIB lantaran harganya sesuai dengan yang diiklankan di televisi. "Kalau beli di toko, tidak menunggu, tapi harganya Rp 275 ribu," kata pria yang akhirnya dipanggil setelah magrib itu.

Lantaran peminat ponsel buatan pabrik asal Cina itu begitu tinggi, distributornya sampai memberlakukan antrean. Bahkan, untuk mendapatkan kartu antrean pun, pelanggan harus mendaftar dulu. Untuk mengaktifkan bonus bicara, pelanggan harus membayar Rp 25 ribu.

Selain harga yang murah-meriah, fitur-fitur di tubuh telepon berdimensi 10,2 x 4,2 x 1,5 sentimeter itu sebetulnya standar saja. Layarnya masih monokrom meski nada deringnya sudah poliponik 32 channel.

Tubuhnya pun dibalur warna hitam. "Jadi cocok juga untuk cowok," kata salah seorang pengguna bernama Endri, 23 tahun, karyawan perusahaan swasta di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan.

Selain melakukan panggilan telepon, handset yang satu ini juga bisa mengirimkan pesan pendek. Fitur lainnya adalah 500 entri nomor telepon, Perekam Suara, Speakerphone, Alarm, Organizer, dan Calculator.

Kualitas penerimaan sinyal dan suaranya pun biasa saja. "Kalau dibawa ke dalam rumah, biasanya garis tanda sinyalnya hilang satu," ujar Endri terkekeh.

Sejak diluncurkan pada 9 September lalu, saban hari stok 600 paket ponsel di distributor ludes, laris manis bak kacang goreng. Stok di gerai-gerai penjualan umum pun begitu. "Hari ini dan kemarin sudah kosong," kata Bella, salah seorang penjual di Roxy, pada Kamis pekan lalu.

Di gerai umum harganya terus merangkak naik. Sampai pekan lalu sudah menembus Rp 300 ribu tanpa bonus bicara. "Wajar saja, untuk mengambil untung," kata Eko Budi Laksono, penjual di gerai Speed Pulsa.

Bella dan Eko mengatakan tingginya permintaan membuat pemilik gerai pun berusaha mendapatkan barang dengan berbagai cara. Padahal Huawei C2601 sebetulnya hanya dijual di distributor dan dealer resmi Esia.

Bagi pembeli, cara mendapatkannya pun tidak mudah. Selain melampirkan kartu identitas, setiap orang hanya boleh membeli satu unit.

Erik Meijer, Wakil Direktur Utama PT Bakrie Telecom, perusahaan yang melahirkan Esia, mengatakan paket Huawei C2601 masih yang termurah di pasaran. Dipotong bonus-bonus, "Sebenarnya pelanggan hanya mengeluarkan biaya Rp 149 ribu untuk paket ini," katanya di situs resmi perusahaan tersebut.

Erik mengatakan handset murah diluncurkan agar semakin banyak orang yang menikmati ponsel.

DEDDY SINAGA | KARTIKA CANDRA

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X