Tanda Tanya Tragedi di Bandara Phuket
TEMPO Interaktif, Bangkok: Departemen Penerbangan Sipil Thailand kemarin mengirim kotak hitam pesawat One-Two-Go yang mengalami kecelakaan di bandara Phuket, Thailand bagian selatan, ke Amerika Serikat.
Di Amerika, kotak hitam yang memuat data-data rekaman detik-detik akhir menjelang maut menjemput itu diektraksi untuk dianalisis buat mencari penyebab kecelakaan pada Ahad lalu tersebut.
Kepala Departemen Penerbangan Sipil, Chaisak Angsuwan mengatakan ekstraksi itu bakal butuh waktu sekitar sepekan. "Setelah itu, semua informasi bakal dikirimkan ke komite penyelidikan kecelakaan udara, yang bakal dipimpin secara permanen oleh Sekretaris Menteri Transportasi, untuk verifikasi," tuturnya kepada Bangkok Post kemarin.
Ditambahkan Angsuwan, informasi bakal dibuka kepada publik. Tapi rinciannya tidak disiarkan ke publik sebagaimana mereka tak ingin menunjuk salah satu hal yang bertanggungjawab atas kecelakaan.
Pesawat McDonnel Douglas MD-82 yang dioperasikan oleh maskapai penerbangan murah One-Two-Go terjerembab di landas pacu Ahad lalu saat badai dan hujan deras sebelum terbalik membentur tanggul dan terbakar. Sebanyak 89 dari 130 penumpang dan awaknya tewas, 41 lainnya terluka.
Hingga kini penyelidikan otoritas penerbangan Thailand mengarah kepada kesalahan manusia, cuaca buruk atau tak berfungsinya sistem bandara dengan baik sebagai penyebab kecelakaan Ahad lalu tersebut.
Vutichai Singhamany, Direktur Keselamatan pada Departemen Penerbangan Sipil mengatakan pilot sudah menurunkan roda pendarat saat mendekati bandara Phuket tapi ditutup dan mencoba naik lagi.
Vutichai memastikan tiga dari enam alat sistem di bandara yang dirancang mendeteksi fenomena cuaca berbahaya, atau dikenal angin gunting, tidak bekerja saat pesawat jet itu jatuh.
Namun mungkin itu bukan penyebab kecelakaan. "Pesawat telah dilengkapi sistem peringatan sendiri, yang tidak tergantung di landasan," kata Vutichai kepada AFP di Bangkok, Rabu lalu.
Angin gunting adalah angin kencang yang berubah secara cepat dan bisa melemparkan pesawat. Alhasil, pilot harus berjuang keras mengendalikan pesawatnya.
Pilot Arief Mulyadi, 57 tahun asal Indonesia, yang juga tewas, menerima peringatan dari menara pengawas soal angin gunting itu.
Namun, anak sulung korban, Agung Bayu Hanggono, 29 tahun, kepada TEMPO menyebut ia mendapatkan bocoran bahwa ayahnya ingin balik ke Bangkok tapi dipaksa mendarat oleh petugas menara pengawas.
Smith Thammararoj, kepala Pusat Peringatan Bencana Nasional Thailand menolak klaim tersebut. "Kapten pilot adalah satu-satunya pembuat keputusan," katanya.
Tom Ballantyne, dari majalah Orient Aviation kepada AFP mengatakan para pilot terlatih menghadapi angin gunting. Tapi bisa sangat berbahaya jika dalam kondisi buruk saat pesawat mendekati landasan. "Seharusnya pesawat tak mendarat dalam kondisi buruk semacam itu," imbuh Ballantyne. "Saya kira (penyebab kecelakaan) adalah cuaca dan pengambilan keputusan yang buruk."
Dari tiga faktor, mana yang paling mungkin? Kita tunggu pekan depan. Bangkok Post/AFP/dwi arjanto
Komentar (0)
Berita Terkait
Foto Terbaru
Top Stories
Berita Utama Dunia
- Snowden Bantah Jadi Mata-Mata Cina
- Inilah Akun Twitter Presiden Iran Terpilih
- Ditaruh di Ban, Penyelundupan Kaki Beruang Gagal
- Hassan Rouhani Akan Bawa Iran Lebih 'Bersahabat'
- Warga AS-Kuba Bakal Bisa Saling Berkirim Surat
- Ternyata NSA Juga Mata-matai Dmitry Medvedev
- Anwar Ibrahim Pastikan Gelar Demo Besar


