Topik
Madiun Ingin Lepas Stigma Basis PKI
TEMPO Interaktif, Madiun: Wakil Walikota Kota Madiun, Gandhi Yunita menyatakan warga Madiun berharap bisa melepaskan diri dari julukan kota basis Partai Komunis Indonesia (PKI). "Kami ingin citra ini berubah," kata Gandi Yunita setelah memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Monumen Kresek di Desa Kresek, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun pada Senin (1/10).
Dia mengatakan, citra itu berawal dari pemberontakan PKI yang dipimpin Amir Muso meledak di wilayah Karesidenan Madiun pada 1948. Saat itu, basis pusat gerakan PKI yang sebelumnya berada di Solo bergeser ke Madiun. Kata Gandi, saat itu Amir Muso dibantu tokoh setempat mampu mengorganisir warga lokal dengan slogan-slogan komunis.
Pada September 1948, akibat tekanan dari pasukan Siliwangi pemberontakan PKI untuk mendirikan negara komunis meledak. Saat itu PKI membantai ulama, polisi, anggota dewan, pegawai kesehatan, guru, dan wartawan di rumah warga di Desa Kresek. Untuk mengenang tragedi itu dibangunlah Monumen Kresek pada 1987 dan diresmikan pada 1991.
Akibat kejadian ini, kata Gandhi, Madiun hingga saat ini masih terkenal sebagai kota basis PKI. Padahal citra ini merugikan masyarakat setempat. "Hingga saat ini warga Madiun belum mampu melepaskan trauma psikologis akibat kekejaman PKI," ujarnya.
Menurutnya untuk melepaskan citra ini, pihaknya akan memaksimalkan pembangunan dan memunculkan citra lain. "Kami akan menggenjot potensi yang ada misalnya tentang industri pendidikan perguruan tinggi atau industri
sambel pecel madiun," ujarnya. Ia berharap citra tersebut akan hilang lambat laun. DINI MAWUNTYAS






Web via