Baru 4.681 Warga Kediri Mengungsi
Topik
TEMPO Interaktif, Jakarta:Posko Badan Koordinasi Nasional (Bakornas) Penanggulangan Bencana melaporkan, saat ini baru 4.681 warga dari empat kecamatan di Kabupaten Kediri yang mengungsi. Padahal, jumlah penduduk 38.170 jiwa yang rawan terkena dampak letusan Gunung Kelud.
"Penduduk tak mau meninggalkan aktivitas mereka yang bersumber dari gunung Kelud," kata staf posko, Adam Malik, saat dihubungi Tempo, Senin.
Menurut dia, penduduk yang mengungsi berasal dari Kecamatan Puncu 175 orang, Pelosok Klaten (425), Wates (1.643), dan Kecamatan Kepung 2.438 orang. Sedangkan dari Kabupaten Blitar tak ada satu pun pengungsi. Ada tiga kecamatan di Blitar yang rawan terkena dampak letusan, yaitu Legok, Garum, dan Gandusari. Jumlah penduduk di tiga kecamatan itu 11.351 orang.
Direktur Logistik dan Peralatan Bakornas, Untung Sarosa, mengatakan saat ini pemerintah daerah sudah siap mengantisipasi letusan Kelud. Pemerintah daerah terus melakukan sosialisasi pengungsian pada warga setempat. "Bahkan satkorlak juga mengadakan simulasi hingga hitungan menit jika terjadi bencana," katanya.
Pemerintah pusat, kata Untung, cenderung mendampingi pemerintah daerah. Kalau pemerintah daerah memerlukan bantuan, baru pemerintah pusat menyediakan keperluan pengungsi.
Bakornas, lanjut Untung, saat ini sedang mempersiapkan kedatangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke lokasi pengungsian. Menurut Untung, Presiden kemungkinan akan berkunjung pekan ini. "Tanggalnya antara 24 dan 25, " katanya. Presiden rencananya akan meninjau kesiapan pemerintah daerah dan berdialog dengan para pengungsi. PRAMONO
Komentar (0)
Berita Terkait
Top Stories
Foto Terbaru
Editor's Choice
Berita Utama Nasional
- Revitalisasi Situs Soekarno Rp 44,5 Miliar
- Pemilik Akun @benhan Jadi Tersangka
- Saat Kelulusan, Darin Mumtazah Tak Ada di Sekolah
- Soeripto Mengaku Pernah Ditawari Rumah oleh Luthfi
- Ini Kunci Sukses Ujian Nasional SMAN 8 Jakarta
- Hitung Uang Labora, Polisi Minta Bantuan Akuntan
- Mobil Luthfi Terkait Kasus Pencucian Uang Fathanah













