Kondisi Timur Tengah Terus Dorong Lonjakan Harga Minyak

TEMPO Interaktif, New York:
Sentimen konflik Timur Tengah terus membayangi perdagangan minyak dunia. Kali ini berita terakhir soal bom di Afghanistan dan serangan terhadap pipa minyak di Yaman mendorong harga minyak dunia hingga ke atas 97 dolar AS per barel.

Harga minyak telah tampak bakal kembali menanjak setelah ekspektasi pasar menunjukkan, pasokan minyak bakal turun. Pasalnya, ada perkiraan memburuknya cuaca di kawasan Laut Utara.

Meskipun Afghanisran tak banyak menyumbang pasokan minyak, pelaku pasar melihat adanya kemungkinan konflik antara kaum militan dan tentara Amerika Serikat bakal bakal menyeret beberapa negara Timur Tengah. Kondisi ini dikhawatirkan bakal menggangu suplai minyak di kawasan tersebut.

Sedangkan soal serangan atas pipa minyak di Yaman, Vice President of Risk Management MF Global UK Ltd., John Kilduff menilai, "Bakal mengganggu jalur minyak yang menyalurkan 155 ribu barel minyak per hari."

Sementara itu, investor yakin kekurangan pasokan minyak juga terjadi di Amerika Serikat. Survey analisis Dow Jones Newswire memprediksi, secara rata-rata, pasokan minyak mentah menyusut 1,6 juta barel pekan lalu. Apalagi, meski harga minyak dunia terus melonjak, Departemen Energi kemarin juga memprediksi adanya peningkatan konsumsi minyak hingga awal tahun 2008 mendatang.

"Menguatnya permintaan, terbatasnya kapasitas, turunnya cadangan minyak dan kondisi geopilitik terus menekan pasar," ungkap Departemen Energi seperti dikuti Associate Press kemarin.

l AGOENG WIJAYA