Aparat Pakistan Tangkapi Aktivis


Grafis Terkait

TEMPO Interaktif, Islamabad:Aparat keamanan Pakistan Kamis (8/11) kemarin menangkapi aktivis pendukung bekas perdana menteri Benazir Bhutto dan menjerat empat aktivis senior dengan tuduhan melakukan pembakangan. Keempat aktivis itu dituding telah melanggar keamanan dan keselamatan negara.

Peristiwa penangkapan tersebut terjadi tak lama setelah Presiden Pakistan Pervez Musharraf menampik permintaan Presiden Amerika Serikat George W. Bush mencabut dekrit negara dalam keadaan bahaya itu.

Dalam pembicaraan via telepon itu, Bush juga meminta Musharraf menggelar pemilihan umum parlemen pada Januari 2008. Selain itu, dia mendesak Jenderal Musharraf agar melepaskan jabatan Panglima Angkatan Bersenjata Pakistan.

Di tempat terpisah, Jaksa Agung Malik Muhammad Qayyum mengumumkan bahwa pemilihan umum akan digelar pada Februari 2008. "Pemerintah sudah memutuskan," tutur Jaksa Qayyum. Sementara itu, "Keadaan darurat akan dicabut satu hingga dua bulan ke depan."

Sabtu lalu, Musharraf, dengan alasan meningkatnya serangan kelompok militan dan terlalu campur tangannya lembaga yudikatif, mengumumkan negara dalam keadaan darurat, membekukan konstitusi, memecat hakim agung, dan membatasi media massa.

Alhasil, pecah gelombang protes yang bermuara pada penangkapan lebih dari 3.000 orang. "Ada sekitar 600 aktivis kami yang ditahan," tutur Raza Rabbani, tokoh senior Partai Rakyat Pakistan, partai pimpinan Bhutto. "Aksi penangkapan masih berlangsung."

Namun, pihak kepolisian menyangkal. Dikatakan, cuma 140 aktivis partai Bhutto yang diciduk petugas. Pihak berwenang kemarin juga melepaskan 331 advokat yang ditahan di Lahore pada Senin lalu, dengan uang jaminan.

"Masih ada 20 pengacara senior lagi yang meringkuk di tahanan," ujar Aftab Ahmed Bajwa, penasihat hukum para aktivis itu, kepada AFP. Kemarin Ketua Umum Partai Nasionali Baluchistan Hasil Bizenjo beserta pemimpin wilayah Ayub Qureshi ditahan.

Bersama mereka, ikut diringkus pula Wakil Ketua Umum Partai Pekerja Nasional Yusuf Mustikhan dan Ketua Serikat Pekerja Pakistan Liaquat Sahi. Mereka dituduh melawan Presiden dan menyebarkan pamflet menentang pemberlakuan keadaan bahaya.

AP | AFP | BBC | ANDREE PRIYANTO

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X