Human Rights Watch Serukan Pemboikotan Permata Burma


TEMPO Interaktif, Rangoon: Human Rights Watch, lembaga hak asasi manusia yang berbasis di New York, hari ini menyerukan agar seluruh dunia, termasuk Cina dan Thailand, bergabung dengan Amerika Serikat dan Uni Eropa dalam melarang impor permata dan jade dari Burma.

"Penjualan batu berharga itu memberi uang tunai secara cepat kepada junta untuk mempertahankan kekuasaan," kata Direktur Program Bisnis dan Hak Asasi Manusia Human Rights Watch Arvind Ganesan.

Bisnis batu mulia yang dikendalikan pemerintah itu diduga keras penuh pelanggaran hak asasi manusia. Pemerintahnya dituduh melakukan kerja paksa para buruh dan tanpa jaminan kesehatan yang memadai, sehingga penyakit HIV/AIDS dan tuberkulosis banyak diidap para buruh.

Junta Burma hari ini secara resmi memulai pelelangan pertama batu berharga itu sejak kerusuhan September lalu. Lebih dari dua ribu calon pembeli akan berkerumun di Rangoon. Negara pemasok rubi dan jade terbesar kedua di dunia itu menuai US$ 300 juta (Rp 2,73 triliun) dalam pelelangan tahun lalu.

Negeri itu dulu biasa menggelar pelelangan dua kali setahun, tapi belakangan ini memperseringnya untuk meningkatkan mata uang asing yang mereka butuhkan. Junta militer telah menggelar empat kali pelelangan tahun lalu.

| DPA | AFP | IWANK

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X