Korban Badai Bangladesh Terisolasi

TEMPO Interaktif, Dhaka:Serdadu dan para sukarelawan di Bangladesh Senin (19/11) kemarin sibuk menyelamatkan korban badai Sidr, yang hingga laporan ini ditulis mencapai 3.200 jiwa. Tak hanya itu, mereka juga membagi-bagikan bantuan kepada lebih dari sejuta jiwa yang selamat.

Namun, militer dan sukarelawan kesulitan menembus wilayah yang dihantam gelombang pasang setinggi enam meter itu. Militer menyatakan sejumlah jalan utama sudah dibersihkan, tapi penduduk yang selamat mengatakan kepada AFP bahwa mereka belum mendapatkan bantuan.

Badai Sidr, yang menerjang Kamis (15/11) larut malam lalu, itu mendatangkan angin dengan kecepatan hingga 240 kilometer per jam dan air pasang naik setinggi enam meter. Alhasil, badai itu menghancurkan dan merusak puluhan ribu rumah dan merobohkan tiang-tiang listrik serta menyapu bersih tanaman vital.

"Sekitar 85 persen dari 40 ribu rumah disapu badai," kata Salim Khan, petugas di kota tepi pantai Patharghata, kepada AFP. "Orang-orang kelaparan."
"Enam anggota keluargaku hilang. Aku khawatir tak lama lagi kami juga akan mati kelaparan," kata Sattar Gazi, petani berumur 55 tahun.

Menurut Abdul Zabbar, guru berumur 50 tahun, mayat-mayat masih mengambang di sungai dan ladang padi. "Sungguh menyedihkan," dia bergumam.

Presiden Bangladesh Iajuddin Ahmed kemarin menyatakan, dalam "bencana nasional" itu, pemerintah telah menerjunkan sekitar 3.000 serdadunya ke seluruh lokasi kejadian. Para prajurit itu dibantu 40 ribu sukarelawan Bulan Sabit Merah Bangladesh.

Sekitar sejuta warga kini berjuang untuk mendapatkan kebutuhan dasar, seperti tenda, beras, dan air minum. Bulan Sabit Merah memperkirakan korban tewas bisa mencapai 10 ribu jiwa.

AP | AFP | BBC | ANDREE PRIYANTO