Jepang Didesak Tinggalkan Irak


Grafis Terkait

TEMPO Interaktif, Tokyo:Majelis tinggi parlemen Jepang Rabu (28/11) lalu memutuskan menghentikan misi transportasi udara Angkatan Bersenjata Jepang di Irak. Hasil itu diperoleh setelah kelompok oposisi yang kini menguasai majelis tinggi meraih 133 suara dukungan di parlemen.

Meski begitu, ada kemungkinan draf undang-undang yang bakal mengakhiri misi Jepang di Irak itu ditolak majelis rendah yang memiliki kewenangan lebih besar. Terlebih majelis rendah dikuasai Partai Demokratik Liberal (LDP) yang kini memerintah.

Partai Demokrat Jepang (DPJ), yang merupakan partai oposisi utama, menentang keterlibatan negara itu dalam operasi di Afganistan dan Irak. Jepang mengirim pasukan nontempurnya untuk misi kemanusiaan di Irak selatan pada 2004 dan 2006.

Di tengah maraknya perdebatan di parlemen, aparat kepolisian Jepang kemarin menahan Takemasa Moriya, mantan pejabat senior di Departemen Pertahanan Jepang. Moriya dituding terlibat skandal suap dalam sejumlah proyek di departemennya.

Moriya, yang istrinya juga ikut ditahan, dilaporkan Kyodo News, menerima suap dari sejumlah rekanan departemen dalam sejumlah proyek pengadaan barang militer. Dikatakan Kyodo, Moriya menerima undangan makan malam, hadiah, dan seratus lebih acara golf.

Meski Moriya membantah jika dikatakan menukar hadiah itu dengan proyek, sejumlah penyelidik, sebagaimana diungkap Kyodo, percaya salah satu rekanan yang dekat dengan Moriya itu kecipratan proyek pengadaan mesin pesawat.

l AFP | BBC | ANDREE PRIYANTO

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X