Ibu Negara Ingatkan Penebangan Hutan Secara Liar Merusak Lingkungan


TEMPO Interaktif, Jakarta:
Selain Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Ibu Negara Ani Yudhoyono pun mengingatkan bahwa penebangan hutan secara liar untuk meningkatkan ekonomi industri akan merusak lingkungan.

“Fenomena perubahan iklim global merupakan hasil perbuatan manusia sendiri sebagai dampak mengejar pertumbuhan yang telah merusak lingkungan tanpa upaya memulihkannya,” kata Ani saat memberi sambutan dalam acara gerakan perempuan menanam 10 juta pohon di Bumi perkemahan Cibubur, Sabtu (1/12).

Pengrusakan lingkungan ini, kata Ani, menaikkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer, yang mengakibatkan meningkatnya suhu bumi rata-rata 2 derajat Celcius lebih tinggi dari jaman pra industri. Indonesia, lanjut Ani, mengalami peningkatan suhu udara sebesar 0,3 derajat Celcius sejak tahun 1990. Suhu tertinggi dicapai pada 1998.

Hal ini, kata Ani, menjadi lebih buruk lagi karena Indonesia merupakan negara kepulauan yang berada di khatulistiwa. “Sehingga rentan terhadap berbagai bencana alam yang disebabkan pemanasan global,” kata Ani.

Kepadatan penduduk, pesatnya industri dan teknologi, dan pemanfaatan energi secara berlebihan menambah kerusakan lingkungan ini. “Setiap individu mempunyai kontribusi sebagai penyebab masalah pemanasan bumi,” kata Ani.

Perubahan iklim, kata Ani, membuat suhu meningkat, gelombang laut menjadi tinggi, terjadi angin puting beliung, dan hujan deras. “Dampak perubahan lingkungan telah membuat jutaan manusia menderita,” kata Ani.

Karenanya, lanjut Ani, seluruh manusia memiliki tanggung jawab untuk memperhatikan lingkungan. “Tidak semua manusia peduli dan ikut memelihara. Bahkan sebagian hanya bisa masuk dan merusak untuk keuntungan pribadi semata.” kata dia.

Dalam kesempatan sama, Menteri Kehutanan Malam Sambat Kaban mengatakan bahwa bebannya sebagai Menteri Kehutanan bertambah ringan dengan peran perempuan menanam pohon ini.

Target penanaman hutan pada kabinet ini adalah 5 juta hektar. Target ini, kata Kaban, dapat tercapai pada 2009. “Karena 13 juta pohon (total pohon yang ditanam) identik dengan 26 ribu hektar yang kami tanam dalam satu saat yang sama,” kata Kaban saat memberikan sambutan. Ketika pohon-pohon yang saat ini ditanam berusia 6-7 tahun, maka setiap hektarnya akan mampu menyerap karbon sebesar 200 ton. Fanny Febiana

Komentar (1)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
0
0
mengapa penebangan liar di indonesi masih sangat merajalela dan tidak bisa dihentikan
; $foto_slide_judul =

Musik/Film

; $foto_slide_judul =

Musik/Film

Wajib Baca!
X