Israel Tidak Akan Serahkan Yerusalem Timur


TEMPO Interaktif, Jakarta: Seorang anggota Knesset (parlemen Israel)hari ini menegaskan pihaknya tidak akan pernah membiarkan Yerusalem Timur menjadi ibu kota negara Palestina merdeka.

"Yerusalem selamanya menjadi ibu kota Israel dan tidak akan pernah menjadi ibu kota negara muslim atau kristen," kata Yuval Steinitz, anggota Komite Pertahanan dan Luar Negeri Knesset kepada Tempo melalui telepon.

Sesuai Perjanjian Sementara Soal Tepi Barat dan Jalur Gaza pada 1995, mendiang Presiden Otoritas Palestina Yassir Arafat dan Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin bersepakat menjadi Abu Dis sebagai ibu kota masa depan Palestina.

Abu Dis berbatasan dengan Yerusalem Timur dan secara administrasi berada di bawah kontrol Palestina. Kota seluas 28,3 kilometer persegi ini dihuni sekitar 12.100 penduduk, termasuk 1.100 pengungsi Palestina.

Stenitz sangat yakin, meski Perdana Menteri Ehud Olmert mengisyaratkan Yerusalem Timur menjadi hak Palestina, itu tidak akan mudah dilaksanakan. "Bila itu sampai terjadi, sebuah kesalahan besar," katanya.

Menanggapi pertemuan komite bersama Israel-Palestina pasca Konferensi Annapolis, Steinitz menilai tidak ada kemajuan sama sekali. Alasannya, Presiden Mahmud Abbas tidak bisa memberikan jaminan keamanan bagi Israel. "Bagaimana mungkin kami berunding jika mereka tidak memenuhi kewajibannya," ia menegaskan.

Faisal Assegaf

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X