Eksportir Genjot Pasar Amerika Latin dan Afrika
TEMPO Interaktif, Jakarta:Kalangan eksportir menggenjot pengembangan pasar ke Amerika Latin dan Afrika sebagai antisipasi pelambatan ekonomi Amerika Serikat dan Uni Eropa. Meski pelambatan perekonomian, para pengusaha masih mengandalkan pasar Amerika sebagai tujuan ekspor.
Menurut Wakil Ketua Gabungan Pengusaha Ekspor Toto Dirgantoro, pengusaha berusaha mengembangkan pasar ekspor di Amerika Latin dan Afrika karena belum banyak terpengaruh perekonomian dunia. Namun, untuk memasuki pasar tersebut tidak mudah, karena negara lain mengejar pasar yang sama. "Kami akan kembangkan kompetisi agar dapat masuk pasarnya," ujarnya kepada Tempo, Sabtu, (12/1).
Pelambatan ekonomi Amerika Serikat yang masih berlanjut akibat kredit macet perumahan (subprime mortgage), kata Toto, belum terlalu besar dampaknya. Selain itu, pasar Indonesia bukan penentu pasar dunia. "Nilai ekspor kita hanya 0,8 persen dari total pasar global," katanya.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ernovian G. Ismy menyatakan, dampak pelambatan ekonomi Amerika juga dirasakan eksportir negara lain. Namun, kalangan pengusaha tekstil tetap menjadikan Amerika Serikat sebagai negara tujuan ekspor utama.
Pada 2007, dari nilai ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) ke pasar global sebesar US$ 10,6 miliar. Dari jumlah itu 43 persen datang dari Amerika Serikat dan sisanya Uni Eropa (16 persen) dan Jepang (5 persen). "Tahun ini kami perkiraan Amerika Serikat tetap pangsa pasar utama sekitar 36-40 persen," ujarnya.
Pangsa pasar Amerika Serikat, kata Ernovian, tetap dipertahankan karena sistem pembayaran yang berjalan lancar dan kepercayaan bisnis sudah lama terbangun. "Kepercayaan ini menjadi modal produsen dalam negeri," katanya.
Namun, pasar Amerika Latin seperti Brasil, Argentina, Chili dan Kolombia serta Afrika seperti Tunisia, Aljazair dan Mesir terus ditingkatkan. "Permintaan tekstil di negara itu semakin besar," ujar Ernovian. Pada 2008 target ekspor TPT naik 10 persen menjadi sekitar US$ 11,2 miliar.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) MS Hidayat mengatakan, pemerintah telah melakukan antisipasi dampak perekonomian Amerika dan lonjakan harga minyak. Menurut dia, pemerintah bersikap realistis terhadap target pendapatan ekspor tahun ini.
Menurut dia, Indonesia sangat bergantung pasar Amerika. "Kalau memang terjadi resesi, pengaruh terbesarnya ke sektor finansial. Karena nilai tukar rupiah sangat bergantung terhadap dolar AS," katanya kepada Tempo, Sabtu (12/1).
Sedangkan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofyan Wanandi mengatakan perlambatan perekonomian Amerika sangat berpengaruh terhadap industri tekstil Indonesia. "Sektor manufacturing dan garment akan terkena imbas terbesar," ujarnya.
YULIAWATI | SORTA TOBING