Efisiensi TI ala SOA

TEMPO Interaktif, Jakarta:

Walaupun telah bertahun-tahun menjadi nasabah Bank Negara Indonesia, Sumaryuni Usman, seorang anggota staf teknologi informasi (TI) di perusahaan swasta, tak begitu awas dengan berbagai aplikasi layanan yang disediakan melalui anjungan tunai mandiri (ATM) BNI. Yang ia lakukan tiap pergi ke ATM hanya mengecek saldo atau menarik uang tunai.

Padahal, Umar bisa memanfaatkan ATM BNI untuk beragam layanan, dari bayar listrik, bayar air (PAM), beli pulsa seluler prabayar, bayar kartu kredit, bayar asuransi, transfer uang, sampai beli tiket pesawat. Bila dihitung-hitung, ada sekitar 100 aplikasi layanan yang disediakan lewat ATM BNI.

Para pelanggan memang tak akan menyadari betapa ruwetnya infrastruktur TI yang berada di belakang layanan-layanan itu. "Kusut! Ada sekitar 20 host yang terkoneksi," ujar Wisnu Wardana, BNI Information Technology Division General Manager. Belum lagi, infrastruktur untuk layanan SMS Banking, Internet Banking, atau Mobile Banking.

Untung saja ada SOA. SOA adalah singkatan dari service oriented architecture. SOA bukanlah sebuah produk, melainkan sebuah konsep arsitektur informasi yang memudahkan fungsi-fungsi bisnis untuk saling berhubungan. SOA mengatur software bisnis, mengambil bentuk yang modular, dan dapat diakses untuk kebutuhan pertukaran informasi oleh departemen lain yang berkepentingan.

Salah satu contohnya, kata BNI Information Technology Vice President Henrisa Lubis, program pembukaan account baru. Perusahaannya akan meminta nasabah untuk mengisi formulir yang serupa di tiap produk yang berbeda, seperti tabungan, pinjaman, atau deposito berjangka. Padahal, data-data nasabah yang sudah ada bisa digunakan kembali untuk produk yang berbeda.

"Kenapa kami harus menulis program yang sama? Kenapa tidak menggunakan data yang sudah ada dan menghubungkan dengan layanan yang disediakan oleh program ini?" kata Henrisa. Nah, implementasi arsitektur SOA memudahkan data-data yang sudah ada, dipakai oleh sebuah aplikasi dari produk baru.

Software Consultant dari Sun Microsystems Indonesia, Ari Hermawan, menerangkan SOA membagi sistem ke dalam tiga lapisan. Yang paling bawah, resource yang menyediakan data yang diperlukan (database, directory, atau legacy application).

Sementara itu, lapisan kedua adalah lapisan layanan yang didefinisikan oleh berbagai fungsi. Lapisan terakhir, yang ada di atasnya, adalah aplikasi. Lapisan teratas dan kedua berkomunikasi dengan berbasis web service. Maka, apa pun platformnya, aplikasi-aplikasi tersebut dapat tetap saling terhubung.

BNI adalah bank pertama di Indonesia yang serius membangun infrastruktur TI-nya berdasarkan konsep SOA sejak akhir 2006. Mulanya, kata Wisnu, pihaknya mengembangkan sendiri konsep tersebut. Namun, pada akhirnya, Wisnu mempercayakan solusi SOA yang ditawari IBM. Selain itu, Sun Microsystems Indonesia juga berada di tahap awal implementasi SOA, di sebuah bank.

Menurut Erwin Sukiato, Country Manager IBM Software Group, SOA tak hanya cocok untuk industri perbankan. "SOA dapat diaplikasikan ke semua industri," ujarnya. Konsep SOA, kata Erwin, akan sangat memudahkan ketika dua perusahaan besar melakukan merger.


Dengan SOA, data yang dibutuhkan oleh aktivitas proses bisnis ditampilkan sebagai layanan yang terintegrasi. Maka, pengguna tak lagi mesti login ke berbagai sistem. Informasi dapat terlihat dalam satu aplikasi tunggal, yang ditampilkan dalam satu layar, hanya dengan sekali login. Tak hanya itu, efisiensi yang dihasilkan oleh SOA bukan main.

Henrisa Lubis menuturkan, setelah menerapkan SOA, BNI mampu meningkatkan kecepatan time to market hingga 70 persen. Waktu respons terhadap permintaan aplikasi baru dari nasabah dapat digunting dari sebelumnya tiga bulan menjadi hanya dua minggu. Berkat SOA juga, produktivitas sumber daya manusia meningkat hingga 50 persen.

Namun, ada harga yang harus ditebus. Menurut Wisnu, BNI mesti menyisihkan sekitar US$ 20 juta per tahun untuk pengembangan infrastruktur berbasis SOA, yang menggunakan tool-tool WebSphere, MQSeries, MessageBroker, DataPower, dan server system p 59x dari IBM.

INDRA DARMAWAN