Pembahasan PLTSa Diwarnai Unjuk Rasa
TEMPO Interaktif, Bandung: Sekitar 200 warga yang pro dan kontra atas pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) berunjuk rasa di depan gedung Wahana Bhakti Pos Bandung, Selasa (1/4). Kedua kelompok ini sama-sama berasal dari kompleks Griya Cempaka Arum Gede Bade.
Kelompok kontra berkumpul di sebelah barat gedung sedangkan kelompok pro berkumpul di selatan. Pada saat bersamaan, di gedung itu tengah berlangsung pambahasan Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) terhadap proyek PLTSa ini.
Adang, warga yang menolak pembangunan PLTSa mengatakan, rencana pemerintah itu akan membahayakan warga kompleks Cempaka Arum. "Limbah PLTSa seperti biopsin dan air lindi tidak bisa dihilangkan dan itu membahayakan kami," kata warga RW 07 Griya Cempaka Arum itu.
Adang juga mengkhawatirkan menyusutnya persediaan air bersih di kawasan itu. Sebab proyek PLTSa akan menyedot ratusan ribu liter air disekitar permukiman. "Pada hal setiap kemarau warga Cempaka Arum selalu kesulitan air," katanya.
Sementara dari kelompok pro PLTSa justru berpikir sebaliknya. Mereka yakin proyek itu akan menguntungkan warga. Selain masalah sampah bisa teratasi pembangunan proyek itu juga bisa menyerap tenaga kerja. "Wargakan bisa berkerja di PLTSa," kata Neneng dari kelompok warga yang pro PLTSa.
Rapat pembahasan Amdal PLTSa itu sendiri dihadiri perwakilan kementerian negara lingkungan hidup, pemerintah dan DPRD kota Bandung, pengembang PT Bandung Raya Indah Lestari, pakar lingkungan serta perwakilan warga Cempaka Arum. (Erick P. Hardi)