Anggaran Subsidi Minyak Terancam Kurang

TEMPO Interaktif, Jakarta:Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk subsidi bahan bakar minyak terancam tidak mencukupi kebutuhan subsidi dalam setahun. Penyebabnya, rata-rata harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) untuk tiga bulan pertama 2008 sudah menembus US$ 100 per barel sejalan dengan kenaikan si emas hitan di pasar unia yang mencapai US$ 119 an per barel.

Harga minyak ICP US$ 100 merupakan patokan harga tertinggi yang bisa ditoleransi oleh anggaran subsidi APBN 2008 sebagaimana dinyatakan di pasal 14 Undang-Undang APBN Perubahan 2008. Sementara volume konsumsi Januari-Maret mencapai 9,6 juta kilo liter dan sampai akhir April diperkirakan membengkak menjadi 12,3 juta kilo liter.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, menghadapi tingginya harga minyak itu, pemerintah akan menggunakan seluruh alokasi anggaran APBN sebesar Rp 126 triliun untuk membayar subsidi BBM. "Akan kami lihat apakah anggaran itu akan mencapai Desember atau tidak," katanya di Departemen Keuangan, Kamis (24/4).

Jika dana subsidi Rp 126 triliun itu ternyata tidak mencukupi, kata dia, artinya ada beberapa bulan menjelang Desember yang tidak akan mendapat alokasi subsidi alias kurang anggaran. "Jadi kalau ada tagihan (dari Pertamina), kami tidak punya anggarannya untuk membayarnya," kata Sri Mulyani.

Bila dipastikan anggaran tidak cukup, kata dia, langkah selanjutnya pemerintah akan menggunakan dana cadangan yang sudah disiapkan di APBN Perubahan, yaitu sebesar Rp 4 triliun cadangan jika harga minyak di atas asumsi US$ 95 per barel dan Rp 4 triliun lagi cadangan jika konsumsi melebihi 35,5 juta kilo liter. "Kami akan lihat apa dengan tambahan dana cadangan itu mencukupi kebutuhan subsidi atau tidak," kata Sri Mulyani.

Menurut dia, kalau realisasi subsidi BBM sampai enam bulan pertama 2008 sudah lebih dari 50 persen pagu anggarannya (Rp 126 triliun), pemerintah akan bicara lagi dengan DPR. "Saya akan laporkan realisasi itu ke DPR kemudian saya bilang, duitnya tinggal segini nih, padahal argonya masih panjang," kata Sri Mulyani.

Agus Supriyanto