Topik


Badai Durga Masih Mengancam Nelayan

TEMPO Interaktif, Cilacap:Setelah Badai Rosi lewat, kini giliran Badai Durga yang mengancam perairan selatan pantai Teluk Penyu. Saat ini badai tersebut masih berada di selatan Jawa Barat.

Dari data Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Stasiun Meteorologi Cilacap, saat ini Badai Durga posisinya berada di 12’4 LS-100’0 BT. Badai ini bergerak menuju tenggara Pulau Jawa. “Meskipun kondisinya makin melemah, tapi tetap harus diwaspadai oleh nelayan,” terang Pujiono, staf BMG Stasiun Cilacap.

Pujiono mengatakan badai tersebut mempunyai kecepatan cukup tinggi, yaitu 40 knot. Dengan kecepatan tersebut, badai tersebut berpotensi melahirkan angin puting beliung. “Dalam satu atau dua hari ini kita akan terus pantau pergerakannya,” ujar Pujiono.

Ia mengimbau nelayan agar tidak terlalu ke tengah laut karena saat ini gelombang laut masih tinggi. “Gelombang laut saat ini mencapai 2 meter atau lebih, kurang aman untuk perahu nelayan,” paparnya.

Sebelumnya, Badai Rosi yang melewati perairan selatan Pulau Jawa kemarin sore menyebabkan munculnya angin puting beliung di pantai Teluk Penyu. Akibtnya, sekitar 50 kios yang menjajakan cinderamata untuk wisatawan rusak ringan.

Puting beliung yang hanya terjadi beberapa menit tersebut merusak atap-atap kios yang sebagian besar menggunakan asbes. Menurut kesaksian beberapa pemilik kios, angin yang bergerak cepat mampu mengangkat atap tersebut hingga puluhan meter.

“Hari ini saya mengganti 40 asbes yang rusak terbawa angin kemarin,” ujar Jaminah, 65, salah satu pemilik kios cinderamata. Selain puluhan kios, 15 rumah penduduk di sekitar lokasi Pantai Teluk Penyu juga ikut terkena angin tersebut. Total kerugian ditaksir mencapai Rp 50 juta.

Meski gelombang laut tidak cukup aman untuk melaut, namun para nelayan terlihat tetap pergi melaut. Tingginya gelombang laut yang mencapai 2 meter, tidak menciutkan nyali nelayan untuk mencari ikan. “Ini sih belum terlalu tinggi, kalau tidak melaut bagaimana keluarga kami bisa makan,” ujar Slamet Riyadi, 54, nelayan pantai Teluk Penyu.

Baginya tingginya gelombang laut merupakan sesuatu yang lumrah. Ia hanya khawatir karena saat ini ikan semakin sulit ditemui. “Tadi pagi saya melaut, tapi cuma dapat Rp 50 ribu,” ujarnya.

ARIS ANDRIANTO