Nepal Larang Ekspor Beras


TEMPO Interaktif, Kathmandu:

Nepal melarang ekspor beras untuk mencegah krisis pangan seiring melonjaknya harga di negeri itu. Dalam pekan terakhir ini, harga beras di pasar lokal naik lebih dari 35 persen menjadi 1.500 rupes (US$ 23) per 30 kilogram.

"Larangan ekspor itu dapat membantu menyetok pangan untuk kebutuhan dalam negeri," ujar juru bicara di Departemen Pertanian Hari Dahal, kemarin. Dia memperkirakan, akan terjadi krisis pangan di negara miskin seperti Nepal, dimana produksi domestik masih belum mencukupi kebutuhan.

Kenaikan harga produk migas di pasar internasional dan penurunan produksi pertanian dunia mengisyaratkan kerawanan pangan tengah terjadi. "Hal ini mendorong kenaikan harga," ujar Hari.

Sebanyak 31 persen dari 27 juta warga negara Nepal hanya punya biaya hidup kurang dari satu dollar AS per hari. Jadi kenaikan harga akan memukul kalangan termiskin.

Departemen Pertanian Amerika Serikat memperkirakan harga pangan di tingkat eceran akan naik dibandingkan tahun lalu. Kenaikan harga 4-5 persen dibanding tahun lalu akan mengalahkan rekor tertinggi sebelumnya pada tahun 1990.

Beberapa produk yang harganya bakal melonjak adalah minyak goreng, sereal, produk roti, dan minuman non alkohol. Kenaikan harga lebih dari 4 persen.

Menurut Kepala Ekonom Departemen Pertanian AS Joseph Glauber, faktor yang mendorong kenaikan harga itu antara lain, meliputi kondisi domestik, pertumbuhan ekonomi global, iklim, kenaikan harga energi, pembatasan ekspor dari berbagai negara, dan berkembangnya pasar biofuel.


Penurunan stok hasil pertanian dunia, kata dia, juga dapat mendorong kenaikan harga makin menjadi. melambungnya harga minyak akan mendorong kenaikan biaya produksi dan transportasi komoditas pangan. Walau begitu, Joseph optimis dalam jangka waktu panjang, harga komoditi bakal turun.

AFP | THOMSON FINANCIAL | RR ARIYANI

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X