Kepala BKPM: Wakil Presiden Koordinasikan Penjualan Krakatau
TEMPO Interaktif, Jakarta:Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Muhammad Lutfi menyatakan, rencana penawaran saham PT Krakatau Steel (Persero) kepada beberapa perusahaan di bawah koordinasi Wakil Presiden. Departemen Perindustrian dan BKPM didorong terlibat dalam proses pencarian mitra strategis tersebut. "Proses pencarian mitra strategis dibawah koordinasi langsung Wakil Presiden," ujarnya kepada Tempo, Senin (5/5).
Saat ini sudah ada empat peminat Krakatau Steel : ArcelorMittal, Bluescope Steel Limited International, Essar Steel Limited dan Tata Steel Limited. Rencananya Bluescope dan Tata akan bertemu dengan Menteri Perindustrian Fahmi Idris pekan ini.
Sebelumnya Kementrian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyatakan kekecewaanya karena tak mengetahui penawaran yang diberikan tiga perusahaan baja selain ArcelorMittal. Padahal berdasarkan undang-undang pelaksanaan privatisasi berada di tangan Menteri BUMN (Koran Tempo, 5 Mei).
Luthfi membantah tidak adanya koordinasi antardepartemen pemerintah. Dia mengatakan semua penawaran itu dilaporkan kepada Wakil Presiden. "Dan dibahas pada sidang kabinet," katanya.
Menurut Lutfi, BKPM bertanggungjawab mengurusi setiap potensi investasi dalam negeri. Sedangkan Departemen Perindustrian, kata dia, punya kepentingan meningkatkan kapasitas produksi baja nasional. "Semakin banyak pihak yang terlibat akan semakin besar mendapatkan proses yang kredibel," ujarnya.
Dia menjelaskan, Kementrian BUMN dan Departemen Keuangan dari segi administrasi privatisasi. "Kementrian BUMN akan membahas bersama Dewan Perwakilan Rakyat," ujarnya. Proses beauty contest akan melalui Kementrian BUMN.
Komisaris Utama Krakatau Steel Taufiequrachman Ruki mengatakan, Departemen Perindustrian dan BKPM terlalu antusias menawarkan Krakatau. Seharusnya pemerintah, mempercayakan peningkatan kapasitas produksi tanpa keterlibatan pemodal baru. "Krakatau memiliki laporan keuangan yang sehat dan mudah mendapatkan dana dari perbankan hingga US$ 1 miliar," ujarnya.
Ruki menjelaskan saat ini arus kas (cash flow) Krakatau per Mei sekitar Rp 1,2 triliun. Selain itu memiliki piutang Rp 2,1 triliun. "Kami tak pernah tercatat default," katanya. Pada tahun ini perusahaan menargetkan meraih laba Rp 800 miliar sementara pada 2007 mendapatkan laba Rp 300 miliar.
Sampai saat ini, katanya pemakaian impor baja dalam negeri sebanyak 2,7 juta ton lebih kecil dibandingkan negara tetangga. Tercatat, Malaysia impor baja sebanyak 3,7 juta ton, Thailand (6,6 juta ton), Korea (16,6 juta ton), Philipina (3,6 juta ton). "Indonesia tidak dalam kondisi darurat dalam semua aspek termasuk kondisi perseroan," katanya.
Pemerintah akan melepas saham Krakatau paling banyak 40 persen dengan harga sekitar US$ 400-500 juta. Saat ini total aset Krakatau sekitar Rp 11 triliun atau US$ 1,2 miliar.
YULIAWATI | ALI NY
Komentar (0)
Berita Terkait
Top Stories
Foto Terbaru
Editor's Choice
Berita Utama Bisnis
- Pengusaha Mebel Ingin Kepastian Harga BBM
- SBY Masih Rahasiakan Soal Menteri Keuangan Baru
- Pasar Kosmetik Ditargetkan Tembus Rp 11 Triliun
- Hatta Tanda Tangani Surat Pemberhentian Oknum Pajak
- ASEI Raih Peringkat BBB- Dari Fitch Ratings
- Merek Asli Indonesia Bakal Bangkit Lagi
- Harga Properti Kelas Menengah Melambung














