Mencari Gen Ronaldo
TEMPO Interaktif, LONDON :-- Bagi penggemar sepak bola, nama Cristiano Ronaldo pasti tak asing lagi. Pemuda asal Portugal berusia 23 tahun itu adalah bintang sepak bola Inggris yang baru. Prestasi pemain sayap Manchester United itu telah diakui sebagai pemain terbaik Inggris tahun ini, baik oleh Asosiasi Pemain Profesional maupun Asosiasi Jurnalis Sepak Bola di negara itu.
Prestasi Ronaldo memang layak diacungi jempol. Dalam musim ini, dia telah mencetak 38 gol. Kariernya yang melesat bak meteor ini tak lepas dari kejelian Manajer Manchester United Sir Alex Ferguson, yang memutuskan menarik Ronaldo memperkuat timnya pada 2003.
Keputusan Ferguson itu ternyata berdasarkan pertimbangan matang. Sebelum meminang Ronaldo, selama beberapa waktu dia memonitor kemajuan pemain muda tersebut.
Selama bertahun-tahun, mengidentifikasi kemunculan pemain sepak bola berbakat seperti Ronaldo dianggap sebagai sebuah seni ketimbang ilmu pengetahuan. Perlu mata tajam seorang pencari bakat, kebijakan pemain pro yang berpengalaman, plus keberuntungan besar untuk menemukannya.
Kini sebuah klub sepak bola terkemuka di Inggris melirik teknik laboratorium canggih untuk membantu mereka mencari Cristiano Ronaldo dan David Beckham berikutnya.
Menurut seorang ilmuwan olahraga tersohor, klub sepak bola itu mengeksplorasi kemungkinan menggunakan pemindaian genetik untuk menyaring Ronaldo masa depan dari ribuan pemain muda berbakat yang antre untuk bergabung dengan klub tersebut. Henning Wackerhage. ilmuwan dari fakultas kedokteran di Aberdeen University, Skotlandia, mengakui sebuah klub profesional telah menghubunginya tentang kemungkinan memindai para pemain. "Untuk menemukan apakah para atlet itu mempunyai kecenderungan genetik untuk mahir dalam olahraga," kata Wackerhage.
Hubungan antara genetik dan prestasi olahraga memang fokus riset yang dilakukan Wackerhage. Awal tahun ini dia membuat tesis tentang eksperimen yang menghasilkan peningkatan kemampuan fisik pada tikus dan mencit serta kemungkinan yang ditawarkan oleh doping gen dan pemindaian untuk meningkatkan prestasi atletik.
Yang menarik, Wackerhage mengungkapkan adanya peluang untuk menghasilkan manusia yang setara dengan mobil F1 dengan menggunakan teknik mutasi genetik. Pernyataan inilah yang membuat klub-klub sepak bola tergiur.
Itu berarti mereka bisa memperoleh pemain berbakat sekaliber Beckham atau Ronaldo dalam waktu relatif singkat. "Klub sepak bola itu berminat mengadakan tes performa genetik terhadap atletnya," kata Wackerhage. "Saran saya, ada pertanyaan tentang legalitas ketika pemberi kerja melakukan tes genetik terhadap karyawannya. Mereka ingin melakukan tes genetik yang spesifik."
Menemukan dan mengembangkan pemain yang dapat membantu klubnya meraih gelar juara serta meraup keuntungan besar dari transfer pemain adalah tujuan pengembangan sepak bola. Prestasi Manchester United dalam mengembangkan pemain berskala internasional, seperti Beckham, Ryan Giggs, Paul Scholes, Nicky Butt, dan Phil Neville, adalah tolok ukur identifikasi bakatnya. Namun, mencetak pemain kelas atas seperti mereka bukan sesuatu yang murah. Sebab, untuk menyamai kesuksesan itu, beberapa klub profesional Inggris harus menyediakan dana hampir Rp 1 triliun per tahun.
Teknologi pemindaian genetik itu sebenarnya telah tersedia bebas di Australia dan dipakai untuk mengetes para atlet. Para ilmuwan mencari beberapa gen yang dianggap bisa dijadikan petunjuk prestasi unggul berdasarkan hasil pemindaian. Perusahaan Genetic Technologies di Australia menawarkan tes seharga Rp 865 ribu, yang diklaim bisa mengidentifikasi apakah seseorang memiliki gen ACTN3, yang diketahui terkait dengan proporsi serat otot gerak cepat dan membuat atlet bertenaga dan berlari lebih cepat.
Gen ACTN3 itu ditemukan pada sprinter unggulan. Ada gen-gen lain yang diasosiasikan dengan kemampuan atletik, termasuk PPARdelta, yang mengatur pertumbuhan otot gerak lambat; IGF-1, yang mengontrol pertumbuhan manusia; dan gen yang meregulasi erythropoietin, yaitu hormon yang mempengaruhi produksi sel darah merah.
Wackerhage menyatakan tidak mendukung penggunaan metode pemindaian itu, meski potensinya memang ada. Dalam sebuah seminar awal April lalu, dia menyatakan modifikasi genetik dapat memecah catatan waktu rekor dunia untuk lari maraton, yang saat ini di atas dua jam, menjadi hanya 90 menit. "Tujuan saya hanyalah menyoroti fakta riset genetik terhadap mencit dan manusia," katanya. "Fakta itu memperlihatkan mengapa ada perbedaan variasi alami dalam kemampuan olahraga."
Mantan juara triatlon dari Jerman itu menuturkan tikus yang dipakainya memang sengaja dibuat berbeda karena DNA-nya diubah. "Terkadang itu tidak menyebabkan penyakit, tapi justru membuatnya jadi spesimen yang lebih sehat, mampu menyimpan cadangan glikogen, dan jantung lebih besar," katanya. "Gagasan saya adalah sebuah eksperimen yang menggabungkan semua mutasi untuk melihat apakah Anda bisa memperoleh atlet super."
Huw Jennings, manajer pengembangan remaja di FA Premier League, mengatakan pemindaian genetik mungkin saja bisa memainkan peran dalam mengidentifikasi bakat atletik. Namun, itu tidak bisa menjamin apakah para pemuda itu akan mencapai tingkat setara pemain sepak bola profesional. "Meski Anda mampu mengidentifikasi kemampuan atletik, jalan untuk mengubah pemuda menjanjikan menjadi profesional top jauh dari mulus," ujarnya. "Atlet berbakat belum tentu menjadi pemain sepak bola berbakat."
UK Sport, lembaga yang mengatur pengujian obat di Inggris, menyatakan tak punya kekuatan untuk mencegah klub-klub sepak bola memakai pemindaian genetik terhadap pemainnya, karena tidak dilarang oleh World Anti-Doping Agency. l tjandra dewi | guardian | scotsman | FIFA