Sangarnya Nargis


Topik

TEMPO Interaktif, : Sungguh dahsyat badai siklon Nargis, yang menghantam Burma akhir pekan lalu. Belasan ribu orang dipastikan tewas dan ratusan ribu lainnya mendadak kehilangan tempat tinggal dan sumber air bersihnya.
Badai supersiklon seperti ini bukan baru. Di India, misalnya, pada 1999, badai itu menewaskan sampai 10 ribu warga setempat. Atau pada Oktober 1998, yang mengubur 18 ribu jiwa di Amerika Tengah dan 140 ribu jiwa lainnya di Bangladesh pada 1991.
Siklon tropis seperti yang menerjang Burma dan banyak daerah lainnya itu adalah sebuah sistem pusat tekanan rendah. Berbekal uap air yang melimpah dari laut, sistem itu mampu membangkitkan energi hingga 10 kali lebih besar daripada energi yang dilepaskan bom atom di Hiroshima.
Di Asia, gejala cuaca yang satu ini dikenal sebagai taifun. Di Barat, ia adalah hurikan. Nama boleh beda, tapi mereka tumbuh dengan gelagat yang sama, yakni ketika suhu muka laut naik paling sedikit menjadi 27 derajat Celsius sampai ke kedalaman 80 meter.
Muka laut yang menghangat itu harus berkombinasi dengan suhu massa udara di lapisan atmosfer atasnya yang dingin untuk bisa menggerakkan uap air dari muka laut menjadi sumber energi untuk sebuah pusaran angin.
Siklon memang tak lain badai yang berotasi di sekitar pusat tekanan rendah. Setelah tumbuh dari laut, ia akan "menendang keluar" angin berkecepatan lebih dari 120 kilometer per jam. Ulahnya yang menyedot sejumlah besar air juga sering kali ditumpahkan kembali dalam bentuk hujan lebat.
Buntutnya, angin kencang plus tanah longsor dan banjir akan menyeret jiwa-jiwa dan meluluhlantakkan infrastruktur seperti yang kali ini terjadi di Burma.
Siklon tentu saja berbeda dengan tornado. Meski sama-sama merupakan pusaran angin--yang pusat atau matanya relatif tenang--yang terakhir ini dibangkitkan oleh badai konvektif tunggal dan diameternya hanya ratusan meter. Bandingkan dengan hurikan, yang bisa terdiri atas puluhan badai konvektif dengan diameter mencapai ratusan kilometer. Puluhan badai itu bisa bertahan dua sampai tiga minggu, tapi akan melemah cepat ketika menyentuh daratan atau lautan yang lebih dingin. l afp

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X