"Proposal ArcelorMittal Tak Fokus"

TEMPO Interaktif, Jakarta:Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menilai presentasi proposal ArcelorMittal tidak fokus terkait rencananya menguasai saham Krakatau Steel. Selama hampir satu jam, Mittal justru hanya mempresentasikan perusahaannya. "Sedangkan keinginannya terhadap PT Krakatau Steel dan PT Aneka Tambang Tbk. (Antam) hanya disampaikan sedikit pada akhir presentasi," ujar sumber Tempo di pemerintahan, yang terlibat langsung dalam pertemuan antara Kementerian Negara BUMN dengan Mittal, Kamis (8/5).

Menurut sumber itu, perwakilan Mittal yang mempresentasikan proposalnya lebih banyak berbicara normatif ketimbang bicara teknis. "Jadi pembahasan tadi kesannya mengambang dan tidak jelas," ungkapnya.

Saat ini sudah ada empat peminat Krakatau Steel : ArcelorMittal, Bluescope Steel Limited International, Essar Steel Limited dan Tata Steel Limited. Arcelor Mittal pihak yang pertama kali menyatakan minat akuisisi Krakatau dan bertemu langsung dengan Presiden pada 10 April 2008. Pemerintah membatasi penjualan saham ke mitra strategis tak lebih dari 50 persen.

Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil mengatakan kedatangan Mittal ini hanya merupakan perkenalan saja. "Mereka hanya membacakan propsal seperti yang dahulu dilakukan saat bertemu Presiden," katanya setelah pertemuan itu.

Sofyan mengatakan, pertemuan ini merupakan tahapan formal antara Mittal dengan Krakatau Steel dan Aneka Tambang "Nanti akan ada pertemuan lanjutan," ujarnya.

Adanya permintaan pertemuan lanjutan tersebut dibenarkan oleh Komisaris Utama Krakatau Steel, Taufiequrachman ruki. Dia mengatakan bahwa Menteri Negara BUMN meminta manajemen Krakatau Steel dan Aneka Tambang melakukan pembahasan lanjutan yang lebih detil dan teknis dengan Mittal. "Jadi pembahsannya nanti business to business," kata Ruki.

Namun, dia melanjutkan, waktu pembahasan lanjutan dengan Mittal tersebut harus dibahas dahulu oleh manajemen Krakatau Steel. "Jadi kami belum tahu kapan waktunya yang tepat," tuturnya.

Menanggapi kedatangan Mittal tersebut, Ruki menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah. Tapi menurutnya, manajemen Krakatau Steel tetap bersikeras menolak rencana strategic sale (penjualan kepada mitra strategis). "Mereka bilang untuk mencapai kapasitas produksi yang diinginkan pemerintah cukup dengan IPO (pelepasan saham ke publik) saja," katanya.

Alasannya, kata Ruki, karena saat ini kinerja Krakatau sedang moncer, dengan indikasi mampu mengantongi laba sekitar Rp 411 miliar hingga Mei ini. "Padahal target kami tahun ini sebesar Rp 430 miliar."

Sedangkan Direktur Utama Aneka Tambang Dedi Aditya Sumanagara menilai, tawararan Mittal kurang sesuai dengan bisnis inti Aneka Tambang. "Soalnya Mittal memproduksi carbon steel, sedangkan kami stainless steel," katanya.

Executive Vice President ArcelorMittal Sudhir Maheshwari menyatakan, pihaknya akan mengakuisisi saham Krakatau sebanyak 49 persen. "Tak lebih dari 49 persen," ujarnya. Dia menolak memberitahukan hasil pertemuan negosiasi di Kementerian BUMN pada Kamis (8/5). "Pertemuan berlangsung positif dan konstruktif, kami tak bisa memberitahukan secara detil karena ini tapi rahasia."

Dia menegaskan ArcelorMittal berpeluang besar menjadi pemenang dalam proses akuisisi Krakatau. Menurut Sudhir, pihaknya akan melobi DPR untuk menjelaskan rencana akuisisi tersebut. "Kami siap memberikan penjelasan agar dewan bisa memahami rencana kami," katanya. ArcelorMittal, kata dia, tak tertarik dengan tawaran IPO. "Kami tidak mempertimbangkannya."

Sedangkan Presiden Direktur Bluescope untuk Indonesia-Malaysia, Rob Crawford menyatakan keseriusan untuk mengakuisisi Krakatau. "Kami sangat meminati privatisasi Krakatau. Kami menghormati proses yang ditetappkan pemerintah," katanya setelah bertemu dengan Fahmi Idris, Kamis (8/5). Perwakilan Bluesope ditemani dengan Duta Besar Australia untuk Indonesia, Bill Farmer.

Fahmi mengatakan, Bluecope menjanjikan memberikan teknologi dalam pengembangan Krakatau. "Mereka juga menyanggupi penambahan tenaga kerja," katanya.

Dia menjelaskan, proses negosiasi pemerintah dengan penawar mitra strategis dilakukan sejak kemarin. Menurut dia, proses perundingan diserahkan ke Kementrian BUMN.

WAHYUDIN FAHMI | YULIAWATI | ALI NY