Mahathir: Tanamkan Budaya Malu


TEMPO Interaktif, Jakarta:Mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahadthir Mohamad, mengatakan perasaan malu selayaknya disemai sejak awal, agar kita bisa maju dan terus memperbaiki kualitas hasil kerja. "Contohlah orang Jepang," ujarnya saat memberi orasi ilmiah kepada wisudawan Universitas Pancaila di Jakarta hari ini.

Menurutnya, berkat budaya malu itulah Jepang bisa bangkit dari keterpurukannya setelah Perang Dunia II. Rasa malu hanyalah satu contoh nilai hidup yang dapat memajukan suatu bangsa. Mahathir menyebutkan nilai lain, yaitu kesepahaman akan pentingnya ilmu pengetahuan, tanpa mempermasalahkan dari mana asalnya.

Masyarakat Islam, katanya, mengalami masa keemasan saat mereka belajar bahasa Yunani dan India, agar bisa menterjemahkan dan memahami buku-buku ilmu pengetahuan. Bangsa Eropa pun tercerahkan saat mereka mulai belajar dari literatur Islam. "Kejayaan Islam lenyap saat muncul fatwa pelarangan pengajaran ilmu-ilmu yang dianggap tidak Islami," sesal Mahathir.

Selepas orasi ilmiahnya, Mahathir menegaskan juga perlunya mendidik guru yang cakap. "Hanya guru yang cakap yang dapat menyampaikan pendidikan berkualitas," paparnya.

Soal pendidikan, kata Mahathir, Indonesia tak perlu sungkan belajar dari negeri jiran yang tadinya berguru pada Indonesia itu. Malaysia menempatkan edukasi sebagai prioritas. Tiap tahun lebih dari 25 persen anggaran belanja mereka diperuntukkan bagi pendidikan, meski konstitusi tidak mewajibkannya.

Menurut Siswono Yudo Husodo, Ketua Yayasan Pendidikan Universitas Pancasila, keseriusan Malaysia akan pendidikan juga terlihat dari fakta bahwa mayoritas perdana menteri negeri itu sebelumnya pernah menjabat sebagai menteri pendidikan.

Bunga Manggiasih

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X