Topik
Tangisan Pinggir Kali
TEMPO Interaktif, Jakarta:Bayangkan, bagaimana rasanya digusur 12 kali? Inilah yang dialami Evi Hermawati, bocah sekolah dasar yang tinggal di bantaran Kali Muara Angke, Jakarta Utara. Kisah pahit yang dialaminya itu kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan. Tak sia-sia, berkat tulisan itu, Evi meraih juara pertama lomba menulis anak bertajuk "Children Helping Children" yang diadakan Tupperware Indonesia pada 2005.
Inilah gerbang awal kisah hidup Evi muncul di layar kaca. Lewat stasiun televisi lokal DAAI TV, cerita ini dituangkan dalam drama seri berjudul Kisah Sebening Kasih yang ditayangkan pada Mei 2008.
Lewat tangan apik sutradara Arturo G.P., drama ini dibuat persis di bantaran Kali Angke. Episode pertama bercerita tentang kehidupan Evi dan keluarganya. Pertarungan konflik telah terasa begitu penayangan pertama.
Evi bersungut-sungut minta dibelikan sepeda karena lelah harus berjalan kaki dari rumah ke sekolahnya yang jauh. "Sekolah kan jauh banget, Pak, Evi capek," ujarnya kepada bapaknya (diperankan oleh Zainal Abidin Domba).
Sang bapak, yang bekerja sebagai hansip berhonor RP 100 ribu sebulan, pun bingung lantaran selalu bokek. Belum lagi, dia juga punya istri kedua dan seorang anak darinya. Ibu Evi, Mak Sum (Yatty Surachman), ikut berjuang melawan kemiskinan.
Di saat kebingungan harus menutupi kebutuhan hidup, bapaknya mendengar berita tempat mereka tinggal bakal segera digusur. Belum sempat berkemas, penggusuran pun dilakukan. Bapak Evi tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya terdiam menyaksikan aparat dan hansip lain memorakporandakan bangunan kumuh itu.
Gambar penggusuran tersebut merupakan potongan momen penggusuran Kali Angke pada November 2001. "Dengan tayangan ini, saya berharap pemerintah bertanggung jawab atas nasib rakyatnya. Kalau mau menggusur, ya harus memberi solusi juga," ujar Evi saat jumpa pers peluncuran drama seri itu di Jakarta pekan lalu. Raut wajahnya tampak tegang menyampaikan hal itu.
Mendengar curahan hati ini, Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta, yang hadir dalam peluncuran drama tersebut, tampak tertegun. Ia lalu menyarankan agar para orang kaya Indonesia mengulurkan tangan kepada yang tak mampu.
Kini Evi telah berusia 17 tahun. Dia dan keluarganya menghuni Rumah Susun Cinta Kasih di Cengkareng, Jakarta Barat, dengan damai tanpa takut lagi digusur.
Meski temanya tentang kehidupan Jakarta yang keras, drama seri yang diproduseri Garin Nugroho ini tak menunjukkan sedikit pun kekerasan. Meski bapak Evi beristri dua, dalam episode pertama itu mereka terlihat kompak menjauhi konflik. Bahkan saudara tiri Evi tampak bersahabat dengan memberikan sepedanya kepada Evi.
Pembuatan drama ini diakui Arturo, sang sutradara, memang sulit. "Kesulitannya sangat klasik, yaitu dana," ujarnya. Namun, ia bangga atas konsistensi beberapa pihak yang berkomitmen untuk tidak berpikiran rating. "Seperti artis Widi Mulia yang ikut membanting harga ketika disunting untuk menjadi Titin, salah satu tokoh dalam drama," ujar Arturo.
Direktur DAAI TV Hong Tjhin mengatakan drama seri ini diharapkan bisa membuka mata khalayak terhadap fenomena sekitar. "Kami mengemas realitas yang ada. Kebanyakan tayangan lain saat ini lebih cenderung semu, drama gedongan, dan mistis," ujarnya. l AGUSLIA HIDAYAH
Web via